Padang 5# Eva dan Payungnya


Setelah sekita dua bulan berpindah-pindah kota di Jawa, sekarang saya kembali berada di Padang. Walaupun sempat kena “mellow-attack”, sekarang saya sudah kembali ceria lagi. Nggak usah Tanya kenapa saya kena mellow attack karena itu siklus tahunan saya. yang terang saya sekarang saya sudah bisa menikmati lagi sekelililng saya. Saya sudah bersemangat lagi untuk jogging sepanjang pantai. Saya sudah bisa menikmati lagi hal-hal kecil di sekitar saya lagi.

Ketika selesai dari meeting dengan client hari minggu yang lalu, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Angin kencang yang menderu-deru di tengah hujan menambah kesan seram. Perut saya lapar dan kafe plus tempat makan di sekitar kantor klien saya itu nggak ada yang buka. Sepertinya mereka sudah kebanyakan duit. Ketika saya asyik melamun dan imaginasi saya sudah kemana-mana, saya dikejutkan oleh dua orang anak kecil yang datang menawarkan payung. Wow, di tengah hujan deras berangin begini, dua orang anak perempuan datang menawarkan payung. Pandai sekali mereka melihat kesempatan ya? Mereka tahu sekali apa yang dibutuhkan oleh calon konsumen pada saat-saat seperti ini. Walaupun di Jakarta ini hal biasa, tapi buat saya ini menakjubkan melihat dua bocah perempuan menembus huan untuk menyambut kesempatan mendapatkan uang. Apalagi tempat saya berdiri ini sepi dan lumayan jauh dari main street. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai jasa mereka.

Terdorong oleh rasa penasaran, saya membuka obrolan dengan anak perempuan yang memayungi saya. saya hanya perlu bertanya nama dan di mana dia sekolah. Setelah itu tanpa sungkan sedikitpun dia bercerita kepada saya tentang sekolahnya, tentang pelajarannya. Dia juga bertanya kepada saya apa pekerjaan saya, di mana saya tinggal, kok bisa sampai di kota ini. Dia juga meminta saya lebih merapat karena air hujan membasahi backpack saya. Nampaknya anak ini cukup cerdas. Perjalanan menuju jalan utama sambil menahan payung supaya tidak diterbangkan angin menjadi begitu mengasykkan mendengarkan celoteh anak kecil ini.

Kita banyak melihat pengamen cilik di jalanan. Tapi pernahkah kita berpikir kalau mereka itu sebenarnya calon entertainer kalau diarahkan degan baik? Di saat anak-anak lain harus didorong untuk pede tampil di depan umum, para pengamen cilik sudah tampil di depan ribuan penonton. Kita sering melihat pedagang asongan cilik yang lantang menawarkan dagangannya, tapi pernahkan kita berpikir bahwa mereka sedang merintis jalan mereka untuk berbisnis. Di tengah usaha para orang tua untuk menanamkan nilai kemandirian dan bisnis kepada anak-anak mereka, mereka sudah berpraktik di dunia nyata.

Mereka hanya perlu disuntikkan motivasi dan pengetahuan tentang apa yang tengah mereka kerjakan. Kita hanya perlu mendukung mereka dengan menitipkan mimpi besar dalam pekerjaan mereka. Karena bisa jadi si pedagang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari berbisnis. Siapa tahu si tukang payung cilik itu adalah salesman jasa yang gemilang di masa yang akan datang. Siapa tahu si pengamen adalah entertainer ulung nantinya. Itulah yang saya suntikkan kepada Eva, nama gadis kecil tukang payung yang melindungi saya dari basah kuyup karena hujan sore itu. Dalam percakapan singkat saya, saya menanamkan motivasi dan mimpi kepadanya. Dengan bahasa anak-anak tentunya.

Advertisements

Dream Job; take and Love it!

(gambar comot di google search)


Apa pekerjaan impian anda?

Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerja from nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang.

Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui.

Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada.

Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya.

Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut.

Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer.

Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi.

Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana.

Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor.

Ketika sore beranjak, barulah saya ‘benar-benar bekerja’ formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2’5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka.

Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya.

Efek dari “tidak mempunyai kantor “ membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya.

Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima.

Ada satu prinsip yang harus dipegang teguh ketika kita ingin maju dalam pekerjaan kita; perbaikan yang berkesinambungan. Perbaikan diperlukan bukan hanya untuk sekedar bertahan dan tidak tumbang tergilas perubahan dan persaingan. Akan tetapi yang lebih penting adalah untuk berkembang, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses. Menurut Mbah Hermawan Kartajaya, ada tiga tugas yang harus dilakukan oleh siapapun, tidak peduli apa jabatannya. Yang pertama adalah menguasai pekerjaan dan menyempurnakan pekerjaan masing-masing. Yang kedua, mempersiapkan jabatan yang lebih tinggi dengan pengetahuan dan keahlian baru dan yang terakhir, menyiapkan penggantinya bila kelak dipromosi untuk jabatan yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?

February; Ketika Saya Lagi Mellow Banget!

23 February 2011; Landing
Saya tidak tahu ada apa dengan bulan February. Akan tetapi saya yang selalu bilang ‘ I only have two moods; good and very good mood!’ hari ini terhempas kalah oleh hati saya sendiri. Ini puncak dari gejolak hati saya belakangan ini. Padahal rasa-rasanya tidak ada lagu ‘February’ atau tentang February seperti lagu “my December” nya mas-mas Linkin Park. Rasa ini menyerang di saat saya harus terbang antar pulau seperti ini.

Begitu pesawat akan landing di BIM (Bandar Udara Minangkabau) pemandangan hijau tanah Minang yang dibelah oleh sungai-sungai yang berkelok meliuk-liuk tampak sangat indah dari jendela. Kawasan yang didominasi oleh gunung-gunung dan bukit-bukit ini ternyata sangat indah. Pulau-pulau kecil yang berserakan di tengah samudera seperti menunggu untuk dijamah. Hamparan hijau itu langsung bersisian dengan birunya samudera hindia yang biru. Bolak-balik terbang ke Padang, baru kali ini saya benar-benar larut dalam pemandangan yang terhampar di bawah sana. Seat yang saya tempati ini saya pesan khusus ke petugas check in ketika transit di Jakarta tadi, seat 32 F. Sangat lapang sehingga saya leluaa untuk menselonjorkan kaki saya. Mas-mas pramugara yang duduk persis di depan saya pun sepertinya tengah hanyut dengan pemandangan bawah sana. Tangannya bertelekan menopang dagu sambil matanya jauh menerawang ke bawah sana. Saya menduga-duga dalam hati, apakah dia juga sedang merasa mellow sepeti saya sekarang? Atau dia tengah memikirkan nasibnya yang terkurung di dalam badan pesawat terbang bolak-balik setiap hari. Beberapa kali mata kami bertemu pandang. Mungkin dia juga mencuri-curi pandang dan mencoba menebak hati saya yang sedari tadi tidak pernah lepas memandang ke luar.

Ketika penumpang lain berebutan berdiri untuk meraih bawaan masing-masig, saya masih duduk di kursi saya. Masih di depan mas pramugara yang juga mematung di kursinya. Rasanya saya ingin kembali lagi ke Jakarta dengan pesawat ini. Ketika hampir semua penumpang sudah meninggalkan kabin peswat, saya perlahan-lahan beranjak dari kursi saya dan berjalan keluar merespon senyum mbak pramugari yang tersenyum template melepas penumpang pesawatnya.

Keluar dari pintu pesawat saya langsung disambut dengan hawa panas yang menyengat. Matahari sore yang bersekutu dengan hawa dataran rendah tepi laut membangunkan saya dengan kesadaran penuh bahwa di tanah inilah saya akan melewati hari-hari saya sebulan ini. Kesadaran itu membuat saya tambah mellow. Sekarang saya benar-benar berada di dimensi yang berbeda, warna jingga keemasan bayangan matahari sore yang menimpa rerumputan di hadapan saya membuat saya tambah melankolik.

Sekarang dada saya sesak, saya butuh untuk bernapas lebih lega. Segera saya mengeluarkan ponsel dari saku celana menelepon ibu saya yang berjarak berpuluh pulau di seberang sana. Seperinya inilah obat yang paling mujarab saat ini. Segera saya juga menelepon kakak saya. mendengar suara mereka cukup mengembalikan udara sehingga saya bisa bernapas lebih lapang. Tak lupa saya juga mengirimkan pesan pendek kepada si sunshine. Apa yang saya lakukan belum cukup menghapus gejolak hati saya saat ini.

Di hari yang sama; di tempat saya tinggal (sementara)
Begitu sampai di rumah, setelah mengalirkan air segar di badan saya, saya tenggelam dalam sujud-sujud panjang yang cukup melegakan setelahnya. Alunan panjang ayat-ayat suci setelahnya cukup untuk menjadi energy saya malam ini untuk segera bertemu dengan tim yang akan bekerja bersama saya di sini.

Setelah bertemu tim, semangat saya meluap-luap. Saya optimis setelah bertemu langsung dengan tim baru saya. malam itu saya langsung akrab dengan mereka. Setelah bertemu dengan tim, saya bersegera pulang, berharap masih bisa menyaksikan sepakbola Indonesia vs Turkmenistan yang tadi sempat saya tonton. Ketika sampai di rumah, pertandingan sudah selesai dan Indonesia kalah telak! Saya kecewa. Tapi beruntung juga saya tidak menonton sampai akhir, kalau iya pasti saya akan lebih kecewa lagi.

24 February 2011; in the Office.
Pagi. Semangat saya penuh pagi ini. Di sela-sela pekerjaan saya menginterview calon peserta training, saya minggat ke kafe yang sedari pertama kali saya ke sini sudah menarik perhatian saya. Sangat menyenangkan mengetahui bahwa kampus ini mempunyai kafe yang sangat cozy seperti ini. Interior café ini didominasi warna merah. Sofa-sofa merah empuk itu begitu menggoda untuk diduduki. Tampak beberapa karyawan dan mahasiswa sedang menghadapi sarapan mereka. Saya mengambil tempat duduk di sudut, melahap perlahan-lahan potongan pizza dan chocolate-orange cake yang menjadi pilihan saran saya pagi ini. Creamy orange juice yang diantarkan oleh waiter tadi semakin menyegarkan pagi saya.

24 February 2011; Sore
Siang. Setelah mengganti outfit kantor dengan kaus tipis dan bermuda kesayangan yang saya beli ketika liburan di Malang kemarin, saya melangkahkan kaki di trotoar menuju ke arah pantai. Siang dengan panas yang menyengat. Cukup dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari tempat saya tinggal, pantai sudah di depan mata. Tapi saya sedang tidak berniat ke pantai. Saya ingin ke café di bawah pohon-pohon tua di dekat pantai tempat saya biasanya kabur kalau lagi penat dengan pekerjaan. Saya ingin segera menyelsaikan pekerjaan saya hari ini di kafe itu. Nah, di sinilah saya siang ini di sudut Wadezig dengan segelas orange juice yang menjadi penawar gerah siang ini. Duduk di depan laptop dengan mellow yang tiba-tiba melanda (lagi).

Di Hari yang Sama; Bersama Sunset di Pantai Padang
Ketika hati saya semakin bergejolak, seorang teman datang menemui. Dia adalah salah satu dari beberapa orang yang tahu tentang kedatangan saya di kota ini. Obrolan dengan dia selalu bisa membuat saya tersenyum. Setelah satu cup Cadbury, kami melangkahkan kaki ke pantai. Jalan kaki. Menyaksikan bias jingga di ujung senja selalu mengasyikkan buat saya.

Entah mengapa mengantarkan perjalanan sang Kala selalu menarik. Menunggunya menyemburatkan cahaya cerah di ujung timur pada pagi hari selalu bisa menyumbangkan keceriaan dan energi buat saya. Rasanya saya bersemangat, sama seperti semangatnya untuk menerangi dunia kembali. Mengantarkannya ke peraduan seperti sore ini selalu membuat saya merenung. Ada kesyahduan yang tercipta di sana.

Akan tetapi parahnya, sunset di tepi pantai sore ini membawa aroma rindu buat saya. Aroma rindu yang mempertebal melankolisme saya. Saya rindu pada dia yang pernah duduk di samping saya di tepi pantai menyaksikan sunset seperti ini. Dia yang tidak pernah lagi mau menyaksikan sunset di pantai itu ketika saya tidak bersamanya. Dia yang selalu bisa membuat saya tersenyum ketika menggoda saya yang lagi muram.

Masih di Hari yang Sama; Ketika Hari Beranjak Malam
Saya nggak boleh tenggelam dalam rasa ini. Yang saya butuhkan sekarang adalah suntikan semangat, karena saya butuh itu untuk tantangan pekerjaan saya di sini. Saya mengajak teman saa untuk menyusuri pantai. Dua jam berjalan bersama dia sambil berbagi cerita dan canda cukup untuk menipiskan rindu saya. Penat dan capek yang merajai cukup membuat saya melupakan rindu saya malam itu. Kalau saja dia tahu, saya harus berusaha sekeras ini untuk tidak terus mengingat dia.

Preparing More; Puding, Colokan dan Mbak Bunga Citra Lestari

Saya sangat surprised ketika menemukan pudding kesukaan saya tersedia di warung kecil yang akhirnya saya temukan ketika berjalan keluar mencari angin di sesi-sesi pelatihan untuk krew baru kantor kami. Di kota lain. Di kota lain, untuk menemukan puding biasanya saya harus ke supermarket besar atau toko kue. Akan tetapi di kota kecil ini, puding bisa ditemukan di warung-warung kecil di banyak tempat.

Oke, saya tidak sedangbercerita tentang puding. Saya hanya mau bilang kalau saya sangat suka puding sehingga kalau suatu saat anda ingin memberi saya hadiah makanan berikan saja saya puding dengan aneka rasa. Yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya nongrong di warung kecil sebesar lemari baju saya itu, yang memesan puding bukan hanya saya saja. Teman saya juga memesan makanan yang sama. Permasalahannya adalah, sendok yang tersedia untuk memakan puding itu cuma dua. Kedua-duanya terpakai oleh teman saya yang juga memesan puding dan teman saya yang satu lagi. Saya yang sudah tidak bisa menahan air liur saya terpaksa menahan dongkol karena tidak bias makan puding karena sendoknya tidak cukup.

Oke, itu terjadi di warung kecil yang pemiliknya mungkin tidak punya visi untuk membuat usahanya menjadi besar. Akan tetapi, saya juga menemukan hal sama dengan kasus yang berbeda di sebuah kafe yang memasang fotonya mbak Bunga Citra Lestari dan beberapa artis lain ketika berada di kafe itu. Maksudnya, pemilik kafe itu mau bilang kalau kafenya pernah didatangi artis-artis terkenal gitu. Dalam bahasa yang lebih singkat mereka mau bilang; kafe kita keren loh, artis aja pernah datang ke sini.

Di kafe itu kasusnya begini. Saya dan teman-teman saya sepakat mengerjakan deadline pekerjaan kantor di kafe karena sudah terlalu sumpek melihat suasana kantor yang begitu-begitu saja. Niat itu sedikit terhambat karena di kafe itu tidak tersedia colokan (apa ya, bahasa kerennya?) listrik yang cukup untuk tiga orang. Sebenarnya itu bisa disiasati dengan memakai kabel rol yang mempunyai banyak stekker. Tapi niat itu juga tidak bisa diwujudkan karena waiter maupun teknisinya bilang mereka tidak mempunyai persediaan itu. Mereka juga terkesan cuek dan tidak mencoba memberikan solusi. Atau paling tidak minta maaf atau berikanlah saya ini senyum lima jari biar saya nggak dongkol.

Dari dua kejadian di atas, saya mengambil kesipulan bahwa banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar. Mereka tidak punya visi untuk menjadi besar. Sang tukang warung mungkin tidak pernah membayangkan bahwa warungnya akan dikunjungi lebih dari dua orang. Oleh karena itu dia hanya menyiapkan dua sendok karena mungkin itulah jumlah maksimal warungnya pada saat yang bersamaan. Kalau dia punya visi untuk mempunyai warung yang besar dan ramai pengunjung, dia pasti akan menyiapkan sendok yang banyak untuk mengantisipasi pengunjung tersebut. Sementara si coffee shop yang memasang gambar mbak Bunga Citra Lestari dengan harapan agar coffee shopnya dianggap keren itu juga sama. Pengelolanya tidak punya visi untuk membuat coffee shopnya besar karena dia tidak siap untuk melayani kebutuhan pelanggan yang banyak dan bermacam-macam maunya. Itu baru kebutuhan yang simple dan sangat mudah terpikirkan oleh semua orang loh. Bagaimana kalau pelanggannya butuh sesuatu yang lebih complicated dan itu wajar? Rupanya ia hanya dimenangkan oleh lokasinya yang ada di dalam mal yang ramai pengunjung. Dan dia mendapat limpahan dari pengunjung mal itu.

Apapun pekerjaan dan usaha anda, sebaiknya sisipkan visi besar dalam pekerjaan dan usaha itu. Kemudian persiapkanlah kemungkinan-kemungkinan untuk visi tersebut. Kalau tidak, pelanggan yang anda harapkan tidak akan dating lagi ke tempat anda karena mereka terlanjur kecewa.

It’s an Encouragement Sir!; Karena Kita Sedang Membangun Karakter

Saya menyelesaikan semua rangkaian pendidikannya tanpa hambatan berarti. Dukungan penuh orang tua saya membuat saya menyelesaikan pendidikan SD-S1 dengan lancar. Bahkan bisa dibilang bertabur bintang. Juara 1 kelas tidak pernah saya lepas dari tangan saya sejak SD-SMP. Ketika di SMA pun walaupun tertatih saya lulus dengan genggaman juara 1 di tangan. Memasuki bangku kuliah, saya tidak mencetak angka-angka tadi karena di kampus tidak ada laporan yang menyebutkan anda juara atau tidak. Saya tidak merasakan suasana kompetisinya, jadi saya tenang-tenang saja. Di kampus saya (waktu saya kuliah) tidak ada sebuah pengumuman yang menginformasikan siapa yang mendapatkan nilai terbaik (IP tertinggi di akhir semester). Jadi, kalau anda mendapatkan nilai rendah, anda tidak akan merasa terisntimidasi dan terlena dengan nilai anda. Bahkan saya pernah mendapatkan nilai yang amat buruk (dibandingkan dengan nilai anak-anak dig geng saya yang bertabur A). Akan tetapi saya selalu punya motivator ulung; ibu saya. Ibu saya tidak pernah mengomeli saya karena nilai saya buruk. Beliau malah memotivasi dan menambahkan tawaran uang jajan agar saya bias belajar lebih tenang.

Sampai akhirnya saya mulai khawatir karena harus menulis skripsi sedangan saya sama sekali tidak menguasai apa yang telah saya pelajari selama bersemester-semester di kampus. Kondisi ini membangunkan saya dari kecuekan saya terhadap kuliah. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya dan mencoba membuat fokus untuk saya jadikan skripsi saya. Saya cukup serius membaca buku-buku itu. Saya mulai merasakan nikmatnya berlama-lama membaca di perpustakaan dan membuat note-note kecil untuk bahan skripsi. Dasar saya orangnya dreamy, saya mulai membanding-bandingkan. Mungkin seperti ini nikmatnya belajar ala anak-anak Harvard atau Leiden itu. Pada waktu itu saya benar-benar cinta sama yang namanya perpustakaan dan menulis skripsi.

Ketika akan menghadapi sidang akhir skripsi untuk menentukan kelulusan, saya sedikit was-was juga. Pasalnya dari cerita teman-teman saya yang sudah melewati tahap ini, sidang ini adalah semacam pembantaian oleh para dosen penguji yang membuat kebanyakan mahasiswa harus berkeringat dingin bahkan yang mentalnya lemah, menangis. Tapi pada waktu itu saya malah tidak pernah mempersiapkan khusus untuk mendalami materi dalam rangka menghadapi ‘pembantaian’. Yang saya lakukan untuk persiapan malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi skripsi saya. Malam sebelum ujian skripsi saya malah sibuk mutar-mutar di mal mencari outfit yang keren untuk saya pakai pada ujian skripsi saya. Saya juga sibuk diskusi sama mbak-mbak pramuniaga yang jaga outlet parfum tentang aroma parfum apa yang cocok untuk saya. Saya hanya ingin memanjakan diri saya setelah bekerja keras dengan skripsi. Saya ingin menciptakan suasana relaks yang membuat saya juga relaks menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis di skripsi saya. Saya sangat percaya bahwa 5 menit pertama orang akan melihat pada penampilan kita. Saya mencoba membuat kesan pertama yang baik di hadapan dosen saya besok dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Saya malah melanggar pakem berkemeja putih dibawah jas dengan memakai kemeja merah marun yang menurut saya lebih keren daripada kemeja putih yang membosankan karena dipakai oleh setiap mahasiswa.

Keesokan harinya saya memasuki ruang sidang skripsi dengan agak was-was walaupun sudah mempersiapkan penampilan yang keren. Apa yang diceritakan oleh teman-teman saya tentang ujian skripsi yang mengerikan itu tidak terbukti sama sekali. Saya malah seperti sedang bercakap-cakap dengan dosen penguji mereka. Hangat dan bersahabat. Saya malah sempat berdiskusi tentang masa depan saya dengan mereka. Mereka malah memotivasi saya.

Belakangan ketika pekerjaan saya berhubungan dengan dunia pendidikan, saya menemukan kata kunci tentang kenapa prestasi saya gemilang pada saat SD-SMA dan saya sangat menikmati belajar ketika di akhir-akhir kuliah. Satu kata singkat; Encouragement.

Encouragement; Karena Kita Sedang Membangun Karakter
Saya menemukan simpul kata ini ketika saya membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali dengan judul yang sama seperti kata pertama sub judul tulisan ini; Encouragement. Artikel itu bercerita tentang pengalaman beliau dengan guru anaknya di Amerika. Pengalaman yang menggambarkan betapa jauhnya cara mendidik guru-guru di sana dengan kebanyakan cara guru-guru di negeri kita.

Ketika saya sedang memberi training atau mendampingi trainer magang di tempat saya bekerja, saya selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati memberikan nilai dan mengoreksi pekerjaan siswa. Mereka kadang protes, mengapa saya memberikan nilai B untuk hasil tulisan siswa jelek dan tidak jelas apa tema dan maksudnya.

Di dalam kelas kami, nilai bukanlah punishment, kami memfungsikan nilai sebagai encouragement. Nilai bagi kami harus bias memotivasi siswa untuk berbuat lebih. Standar nilai yang kami berikan bukan semata-mata berdasarkan hasil pekerjaan siswa tersebut. Kami sangat menghargai proses dan perbedaan individu. Fatih yang belajar dengan start up 1 misalnya, ketika bisa melaju ke standar 4, itu progress yang bagus. Sedangkan Patrick yang nilai start upnya 5 dan melaju ke ke angka 6, itu bukan progress yang bagus. Yang mempunyai nilai yang lebih tinggi adalah siswa yang strat up nya 1 dan melaju ke angka 4. Nilai bagus yang diberikan kepada Fatih adalah encouragement. Biasanya di bawah nilai itu kami berikan komentar dan pujian atau kata-kata motivasi yang mendorong siswa untuk terus meningkatkan prestasi mereka.

Di kelas kami, pada sessi akhir kelas, siswa diminta untuk membuat sebuah karangan dengan bahasa Inggris setiap harinya. Biasanya, siswa akan bersemangat untuk menulis lebih banyak lagi karangan setelah melihat nilai dan kata-kata motivasi di atas hasil karangan mereka. Ketika melihat lagi hasil tulisan selanjutnya di buku karangan mereka keesokan harinya, mereka semakin termotifasi untuk menulis lebih baik ketika mendapatkan nilai yang lebih baik. Pada akhirnya, buku hasil tulisan itu akan menjadi permainan ‘lempar –tangkap’ motivasi antara guru dan murid maupun trainer dan trainee.

Encouragement ini tidak hanya ampuh buat anak-anak. Kebanyakan peserta training saya adalah guru-guru dengan usia 20-56 tahun. Pada awalnya saya sendiri kaget ketika mendapati kaum ‘senior’ tersebut begitu bersemangat. Semangat yang menghilangkan keluhan-keluhan mereka tentang kemampuan belajar dan daya ingat yang menurut mereka semakin menurun karena mereka sudah tua.

Siapa pun orangnya, mereka akan senang dan termotifasi ketika hasil pekerjaannya dihargai. Contoh yang lain adalah dalam dunia kerja. Tak bia dipungkiri, staf yang mendapat penghargaan dari atasannya baik itu berupa pujian ataupun reward dalam bentuk materi akan semakin termotifasi untuk berprestasi.

Kalau anda seorang pendidik, guru, trainer, boss atau atasan, sudahkah anda memberikan encouragement kepada murid dan bawahan anda? Atau jangan-jangan kita ‘membunuh’ karakter mereka dengan memberikan nilai punishment? Kita tidak sedang menghasilkan generasi yang bernilai bagus saja, tapi yang paling penting adalah menghasilkan generasi yang berkarakter unggul, karakter yang kompetitif dan penuh motifasi. Kebanyakan karakter positif didapat dari imput yang positif juga.

Padang 3# Padang in My Mind

I tried to look out of the aircraft window in my side. I wondered what kind of place that I will visit. Yes, I’ve learnt about this city from many books. I’ve googled the information for several times to make sure about the city. However, what I got in my mind was still blurring. What crossed in my mind was Siti Nurbaya, Sutan Takdir Alisyahbana, Agus Salim, Bunda Kanduang and many names that I got from the novel I had been reading when I was a child. The recent imagination about this city was related to the remarkable tourism place which is operated by the Italian; Cubadak Island. The Island I’m willing to visit during my stay in Padang. The view from the aircraft window was only the white cloud that was covered the land far down there.

Once the plane landed in International Airport of Minangkabau, I could see clearly the land outside. It was very different with the city I just left. I saw the green covered land surrounded by the forested hill. I was served with these tremendously beautiful views at my very first visit. Once I can directly conclude that the city is very beautiful with these natural landscapes. Yes, beautiful nature for me is a forest, hill and river.

It’s proven when I was on the ride to the place where I stay now. I really enjoyed the ride along the way to the central of city. It was really different with the cities I had visited recently. I could feel the city would be very interesting. In addition, the people I met were very warm and friendly. It’s kind of nice culture that Minang people have.

It didn’t take a long time for me to adapt with the life here. Even I only knew little about ‘bahasa Minang’, it didn’t take me to the ‘lost in the city experiences’. It is very easy to get the information you need here. The people will gladly tell you the way home if you are lost. So, nothing to worry here.

Recently, I found my big pleasure in this city. I love to take the ‘Angkot’ wherever I go. It is not like the ‘Angkot’ I found in many cities in Indonesia, the old ugly public transportation that people try to avoid. Unlike the fact in other cities, Angkot in Padang is my favorite transportation. Whenever I needed the escape from my hectic job, I would directly head to the street and take Angkot to do the city tour. What I like is the good music, comfort seat and the artistic decoration. Sometimes, I thought that I got the ride from the gangsta black man driver that is figured in the Hollywood movie. The combination of good music, decoration, and speed driving make my imagination take me to the scene of Fust and furious movie. In some ‘Angkot’, I found the wide flat LCD screen which played Justin Bieber or Akon video. And in one lucky day, the driver played me Lady Gaga’s songs along the way in my city tour. With what I’ve found, there is no reason not to enjoy the living in this city. @erikmarangga.blogspot.com

India Moment; Senyummu Indahkan Duniaku

I was in rushing from Bandung to catch my flight in Soekarno-Hatta Airport when I wrote this note. I was anxious that I would miss the flight. It was three hours to the flight. I just keep on talking with my mind and regularly saw the clock above the drivers head front there. It was very annoying to think how I could be this late. I tried to keep the positive suggestion in my mind. I’ve proven this in many times, it was really works. What I kept in my mind was “the bus will get the airport no more than 2 o’clock” intervals with the words “the plane will delay 30 minutes, it’s Indonesia men!”

To lose my anxiety I tried to focus on my book I bought in Gramedia Matraman when I was in my quick transit in Jakarta in my arrival from Padang. Unfortunately, instead of “wow, it’s a good reading! I enjoy it!” what crossed in my mind was “owh…what kind of writing is this?”. I just couldn’t focus. Reading was no longer fun at the time. The anxiety of missing the flight broke my concentration. So, I packed back my book to my backpack and take my eyes out of the window in my side.

The shuttle bus I was taking started to enter the city highway which is regularly having the great long traffic jam. At the highway gate heading to the southern part of Jakarta and also Airport, the bus was side by side with another bus. The kind of a common economic bus crowded with the tired-face passenger. Suddenly, my eyes catch the other eyes in that bus. I didn’t know why, that eyes create calm in my heart. Eyes on eyes on the side by side running bus. It was just randomly caught. It seems the eyes over there looked into my eyes too. Eyes on eyes lead to another contact. Now smile start to bow on that good looking face (Senyum from Raihan started to play). It’s like that I had the ‘India moment’, the scene that you find in the bollywood movie (ya, ya, I know you’ll laugh me because I like to watch Indian movie) when the man meet the girls at the first time. The girls blushingly avoid her sight from the men ayes and does the eyes contact afterwards. It’s usually repeated. As you know, the next action will be the chasing each other in the large flower garden while singing. Sometimes hide behind the big tree and keep on singing. This part make Indian movie plays in a long long duration.

Ok, back to my India moment. The two buses rotated to run on before, rushing in the not too crowded highway. When they were running side by side, my India moment repeatedly happened. It’s kind of strange to get the feeling from the ‘I dunno who’ over there. It’s just started from the eye contact leaded by the smile. I forgot the anxiety of missing the flight and started to move my finger on my laptop’s keyboard when the bus with the nice smiling face running on before my bus. It’s an evidence that smile is a universal language, universal communication among us. So, why don’t we smile? Who knows the smile on your face gives the cheers on people around you.

Previous Older Entries