Padang 3# Angkot; Lady Gaga

Dalam setiap trip ke suatu kota, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi sedetail-detailnya tentang angkutan umum kota tersebut. Informai yang saya butuhkan sih seputar tariff angkot, rutenya kemana saja dan cara menyetop angkotnya seperti apa. Selain itu saya juga akan bertanya apakah aman bertanya kepada supir angkot bila kita ingin ke suatu tempat. Saya butuh informasi detail seperti itu biar saya mudah pergi kemana-mana walaupun saya tinggal bilang sama tim saya di sini dan aya akan diantar kemana-mana. Tapi untuk urusan jalan, saya lebih suka suka jalan sendiri tanpa merepotkan orang lain. Pasalnya saya suka jalan kaki lama-lama, duduk diam di sebuah warung pinggir jalan sambil menikmati suasana sekitar dan hal-hal sepela lainnya yang sering diprote oleh teman jalan saya. Selain itu dengan mempunyai informasi yang lengkap anda tidak akan kelihatan seperti orang asing di sebuah tempat yang baru. Peluang anda untuk ditipu orang pun semakin kecil.

Walaupun saya sudah mengumpulkan informasi lengkap seperti tadi, biasanya saya masih juga nyasar. Tapi selama itu nyasar di tengah kota dan bukan di tengah hutan Amazon, saya sih oke-oke saja. Hitung-hitung bisa melihat tempat yang baru. I don’t really buy malu bertanya sesat di jalan. Di kota yang baru kita kunjungi menurut saya banyak bertanya berarti siap-siap ditipu. Kalaupun bertanya saya memilih bertanya kepada bapak polisi atau ibu-ibu.

Kesukaan saya memakai transportasi umum membuat saya tahu beberapa hal yang sangat mencolok tentang angkot dan bus kota. Perbedaan yang paling mencolok adalah masalah kenyamanan, interior dan eksterior serta kesopanan pengemudi angkot. Supir angkot di Malang misalnya. Mereka cukup ramah namun angkotnya sangatnya sangat sederhana dan dengan warna biru yang membosankan. Rute angkot di Malang ditandai dengan huruf-huruf besar yang merupakan singkatan dari rute angkot tersebut. Yang lucu adalah di Balikpapan dan beberapa kota di Kalimantan Timur. Mereka menyebut angkot dengan sebutan Taxi. Begitu juga di Papua.

Nah, naik angkot yang paling menyenangkan menurut saya adalah di Kota Padang. Hari pertama sampai di kota itu saya langsung menjajal angkot sendirian. Angkot di sini sangat eye catching. Eksteriornya penuh ditempeli stiker-stiker dan tulisan seperti yang ada di mobil-mobil rally di F1. Kebanyakan angkot di sini dimodif sehingga menjadi ceper seperti mobil balap. Setiap rute mempunyai warna berbeda yang keren-keren. Ada yang berwarna pink yang hampir ke ungu. Orange, putih, dan biru. Saya suka banget yang berwarna pink dan putih. Badan mobil penuh. Sebagian lagi badan mobilnya ditutupi oleh gambar seperti yang ada di wallpaper computer. Ketika angkot-angkot ini sudah beriringan di jalan makin mirip dah sama mobil-mobil rally.

Begitu masuk ke dalam angkot, saya takjub mendapati interiornya yang luar biasa. Tempat duduknya nyaman dan bersih dengan posisi menyamping saling berhadapan. Seatnya tidak penuh berdesakan sehingga menciptakan ruang yang lapang yang membuat penumpang merasa nyaman walaupun angkot penuh. Seat depan yang ditempati pak supir lebih keren lagi. Posisinya dibuat lebih rendah daripada seat penumpang. Sandaran kursinya tinggi dan empuk seperti kursi kantor.

Yang paling keren menurut saya adalah pernak-pernik aksesoris yang melekat dalam angkot. Aksesoris yang paling dasar dan dipunyai oleh semua angkot adalah audio canggih yang super stereo. Biasanya perangkat audio itu terdiri dari satu buah speaker aktif yang besar dan 3-5 speaker aktif kecil di setiap sudut. Perangkat tadi tersambung ke pemutar audio (Mp4) yang semuanya menggunakan USB. Si supir tinggal mememncet remote control, music pun mengalun. Di beberapa angkot yang saya naiki bahkan dilengkapi dengan monitor layar datar Samsung 17 inci. Di angkot yang lain lagi dilengkapi dengan kamera CCTV yang di pasang di dashboard angkot. Biasanya angkot jenis ini menjadi rebutan anak-anak sekolah. Semua aksesoris itu dilengkapi dengan lampu-lampu dan botol-botol yang ditata dengan artistik sehingga menyerupai bar mini atau music room. Biasanya semua pernak-pernik tadi masih dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris seperti yang saya lihat di mobil-mobil black men di film-film Hollywood. Hoho…saya tidak tahu nama-nama aksesoris itu karena pengetahuan saya akan otomotif jongkok banget.

Nah, aksesoris sudah oke, perangkat audio sudah keren. Bagaimana dengan musiknya? Hampir semua musiknya gue banget. Anda tidak akan mendapati music dangdut apalagi koplo. Ini Padang men! Kalaupun ada music daerah, ya lagu minang. Tapi saya nggak masalah. Telinga saya sangat menikmati lagu-lagu minang walaupun saya tidak tahu artinya. Tapi yang paling banyak diputar adalah music-musik hip-hop, electric pop , brit pop dan hip-hop yang menghentak. Makanya, mbak Lady Gaga, Uda Akon, Bang Usher, Mas Ne-yo dan Bang Craig David menjadi top hits di sini. Musik-musik keren dengan audio canggih tadi membuat anda merasa berada di sudut sebuah club. Malahan lagu-lagu yang menjadi ost. Drama Korea kerap terdengar. Kalau anda mau, anda juga bisa request kok. Saya pernah diputarin lagu-lagunya Mbak Lady Gaga sepanjang jalan gara-gara saya minta dia untuk replay lagu “Let’s Dance”.

Setelah saya pikir supir angkot di sini sangat customer oriented. Mereka tahu bagaimana memanjakan konsumen (angkot). Berbeda dengan bus-bus dan angkot di Jawa yang walaupun tertulis excecutive class/Patas, musik yang diputar adalah dangdut koplo group Palapa yang termasyhur itu. Padahal penumpangnya kebanyakan anak-anak muda. Malahan saya tahu lagu-lagu baru ketika saya naik angkot. Nggak perlu mantengin acara music di TV buat tahu lagu-lagu baru. Cukup mutar-mutar naik angkot saja.

Kalau supirnya bagaimana? Kebanyakan mereka masih muda dan tampil keren macam anak-anak gahul itu. Dari rambut ke kaki tertata apik. Sepertinya mereka sangat menikmati profesi mereka. Walaupun fitur wajah orang di sini gahar-gahar, ternyata mereka sangat sopan. Mereka akan memanggil anda dengan uda dan uni dan tidak segan-segan memberi bonus senyum lima jari.

Selama di sini, saya sudah mencoba 3 jenis angkot, dan saya paling suka angkot warna putih dengan rute pusat kota-Basko Mall. Desain eksteriornya keren-keren mulus. Interiornya juga keren-keren. Saya masih penasaran ingin mencoba naik angkot warna pink yang kelihatannya chic banget itu. Nah, kalau anda ke Padang, jangan ragu-ragu untuk naik angkot. Asyiknya pool pokoke!

Kalau anda, pengalaman naik angkot anda seperti apa? Cerita juga dong tentang angkot di kota anda!

Advertisements

Palembang 4# Connecting Connected, Being Connected. Are you Well Connected?

Saya menulis draft catatan ini dalam perjalanan dari Padang-Palembang melintasi jalan Lintas Sumatra dengan bus. Waktu itu saya agak kesal karena mau ke kota tetangga aja kok mesti transit ke Jakarta terlebih dahulu sih? Gara-gara kesal itulah saya dengan senang hati memilih naik bus daripada naik pesawat yang harus transit ke Jakarta dulu. Padahal kan secara logika lebih efektif naik pesawat walaupun harus transit ke Jakarta dulu. Tapi saya sedang ngambek. Wujud ngambek saya adalah memilih naik bus. Padahal sih, alasan lainnya karena naik bus jelas lebih murah. Siapa yang nggak mau? Bayar lebih murah dengan bonus sensasi melintasi rimba Sumatra. Buat saya itu jelas-jelas bonus yang menggiurkan.

Tapi selama dalam perjalanan saya masih juga memikirkan tentang ‘mengunjungi kota tetangga tapi harus transit ke Jakarta dulu’. Itu kan sama dengan mau dolan ke rumah tetangga sebelah tapi harus berjalan memutar ke kampung sebelah. Padahal kan rumah yang dituju hanya terpaut dua rumah.

Bisa jadi, masalah ‘koneksi offline’ ini yang menghambat perkembangan daerah-daerah di luar Jawa. Mungkin ini tidak jadi masalah dengan para pebisnis dengan kantong tebal karena biaya transportasi hanyalah seupil bagi mereka. Berbeda dengan bisnis kecil dan pemula yang harus memperhitungkan dengan sangat cermat dan hati-hati semua biaya yang harus mereka keluarkan. Bagi mereka, naik bus tentu lebih dipilih karena jauh lebih murah. Tapi tentu saja naik bus tidak efektif buat bisnis mereka. Waktu produktif terbuang di kursi bus.

Ketika secara offline koneksi masih menjadi hambatan bagi sebagian besar orang, secara offline sebagian besar orang sudah connected. Perkembangan teknologi informasi terutama internet menyebabkan horizontalisasi di antara penduduk dunia. Secara online mereka sudah semakin sejajar alias horizontal. Informasi dan pengetahuan yang diakses oleh si Sam di new York sana pada saat yang sama bisa diakses oleh si Abdoul di tengah gurun Sahara Afrika maupun Si Yefrizal di Sawahlunto sana. Ide-ide yang didapat setelah mengakses informasi dan pengetahuan tadi tentu saja bermunculan di kepala mereka menunggu untuk direalisasikan di dunia offline.

Permasalahannya adalah horizontalilasi online tadi masih susah diwujudkan dalam dunia offline. Si Yefri di Bukittinggi boleh saja bercakap real time dengan si Yves di bawah Eiffel sana akan tetapi belum tentu ia bisa dengan mudah mengunjungi si Uno di Palembang. Ia bisa mengunjungi si Yves secara online dengan mudah akan tetapi susah untuk mengunjungi si Uno yang di Palembang walaupun mereka tetangga propinsi dan jaraknya tentu saja jauh lebih dekat. Ia memutuhkan waktu lebih dari 16 jam untuk bia sampai ke sana dan harus memutar ke Jakarta dan membayar lebih mahal kalau mau lebih cepat. Biaya yang lebih mahal dikeluarkan karena tidak ada direct flight dari Padang ke Jakarta walupun mereka tetangga. Lucu juga dengan kenyataan harus ke Jakarta dulu untuk sampai ke Pekanbaru atau Medan dari Palembang. Rute yang memutar jauh ini kan high cost. Bisa nggak sih salah satu Airport yang ada di Kota di Pulau Sumatera ini dijadikan hub untuk penerbangan ke kota-kota sekitarnya. Kalau perlu, di Kalimantan juga harus punya satu. Jadi, nggak harus Jakarta sentris kayak gini.

Saya: Ngantuk pagi-pagi buta rushing to Sultan Badruddin II Palembang airport to catch the flight to Padang via Jakarta. Menunggu untuk terbang dari satu kota ke kota lain di Sumatera tanpa harus ke Jakarta dulu.

Palembang 4#Bingkai Keindahan

Setelah memutarkan lagu “Good Byee”nya MLTR buat peserta pada sessi Listening kemarin, saya ternyata harus benar-benar say good byee kepada Indralaya and Palembang. Walaupun saya pernah bilang Indralaya itu very laid back, tapi toh saya terbiasa juga dengan ritme kehidupannya yang tanpa hingar bingar. Lagipula hati saya sudah terpaut dengan para peserta training saya yang secara emosional kita sudah sangat dekat. it’s very hard to leave, when you fasten your heart upon something.

Saya sudah nyaman dengan ritme keseharian yang saya lakukan di sini. Berjalan kaki ke kelas tempat melintasi areal kampus yang luas. Pulang bersama-sama peserta menggunakan angkot ketika sore menjelang. Having conversation or words game during the way home or simply walking together while chatting or sharing about anything. And of course having extra days and corresponding through the SMS to assist them in Learning. It created closeness among us.

Saya juga sudah terbiasa dengan refreshing saya yang simple; naik bus kampus melintasi padang gambut menuju Palembang. Ini adalah salah satu cara bagi saya untuk menyelesaikan bacaan. 20 menit pertama perjalanan Indralaya-Palembang biasanya saya masih terpaku pada bacaan di tangan saya dengan diiringi nyanyian pengamen. Ketika perjalanan melintasi Padang gambut, mata yang tadi menuyusuri kalimat-demi kalimat mulai tidak tahan untuk melihat ke arah luar jendela. Maka di depan saya terhamparlah lahan gambut yang dipenuhi rumput-rumput rawa yang diselang-selingi oleh sungai-sungai kecil bening yang mengalir tenang. Ada satu sungai kecil yang selalu saya tunggu untuk melewatinya. Sebuah sungai bening yang saking beningnya saya bisa melihat dasar sungai dengan jelas dari atas bus yang melaju. Keindahan yang masih belum terjamah tangan manusia.

Ketika sampai di kota Palembang, saya akan langsung melompat ke atas bus Trans Musi dan menikmati kenyamanan sensasi segar setelah berpanas ria dengan hawa kota Palembang. Saya akan duduk tenang di atas bus dan mulai membaca atau sekedar memperhatikan orang-orang dalam bus dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Menurut saya, ini adalah salah satu cara untuk mencoba menyelami kehidupan lokal. Saya jadi tahu bagaimana the locals behave, saya tahu apa topic pembicaraan yang sedang inn di tengah-tengah mereka. Saya juga tahu bagaimna kecenderungan mereka dalam fashion tentu saja. Dan tentu saja saya mulai sok menilai satu per satu penampilan mereka.

Biasanya saya akan ikut rute bus dari ujung ke ujung kemudian transit di salah satu halte untuk menaiki bus yang lain yang akan membawa saya untuk makan siang. Karena ini di Palembang, menu utama yang dicari adalah makanan khas Palembang. Dan favorit saya adalah pempek. Setelah city tour itu biasanya saya menemukan banyak ide untuk training saya. Banyak hal yang menginspirasi ketika saya duduk berpikir sambil melayangkan pandangan ke luar jendela bus.

Ada yang bilang keindahan versi saya terlalu sederhana dan mungkin hal biasa bagi orang lain. Namun bagi saya, keindahan tidak harus dibingkai dengan mewah. Hal yang sederhana akan menjadi indah dalam bingkai hati saya. Keseharian yang bagi orang mungkin adalah hal biasa bisa menjadi romantis bagi saya. For me, it’s the matter of how I set my paradigm. Saya sangat bersyukur bisa menikmati keindahan dalam bingkai yang sederhana. Saya menjadi mudah menemukan keindahan itu ada di mana-mana bahkan dalam hal-hal remeh yang luput dari perhatian orang. Banyak orang yang harus membayar mahal untuk menikmati keindahan dalam bingkai yang mereka buat sendiri atau bingkai yang dibuatkan oleh orang lain untuk mereka.

Kalau anda, bingkai keindahan versi anda seperti apa?

palembang 3# Indralaya, The city that is very Laid Back!

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar Kata Palembang? Pasti anda akan langsung meneriakkan empek-empek dengan semangatnya. Iya, saya tahu kalau empek-empek itu terkenal banget dan tentu saja enak banget. Tapi sekarang saya tidak sedang menulis tentang empek-empek walaupun empek-empek itu memang enak sekali. Saya akan bercerita tentang sebuah kota kecil yang penting sekali untuk kehidupan pendidikan di Palembang, Sumatera Selatan bahkan Indonesia. Kota kecil itu adalah kota tempat Universitas Sriwijaya (Unsri) berdiri. Nama kotanya adalah Indralaya.silahkan cek peta anda! Atau kalau ingatan anda tidak tergolong ke dalam kategori ‘Jongkok’, silahkan “recall” lagi pelajaran geografi di SD dulu. Dapat? Iya, iya! Saya nggak jamin anda menemukannya karena kota ini memang kota kecil yang menjadi penting hanya karena ada Unsri di situ.

Indralaya adalah ibu kota kabupaten Ogan Ilir yang merupakan kabupaten baru (baru 5 tahun) pecahan dari kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dari Palembang bisa ditempuh dengan bus selama lebih kurang 1 jam. Kota dengan dominasi lahan gambut kosong ini masih sangat minim fasilitas. Padahal kota ini dihuni oleh puluhan ribu mahasiswa Universitas Sriwijaya dari berbagai daerah. Jangan tanya dimana café nyaman dengan sofa empuk dan fasilitas hotspot karena yang tidak bersofa empuk dantidak berfasilitas hospot saja nggak ada. Makanya untuk beberapa kebutuhan, harus ke Palembang dulu untuk mendapatkannya. Padahal kan Unsri itu sudah berdiri puluhan tahun di tempat ini. Masak nggak ada yang berpikir untuk melihat ini sebagai peluang bisnis?

Mahasiswa tinggal di tempat yang namanya ‘bedek’ yang tersedia di sekeliling kampus atau di rusunawa yang disediakan kampus. Bedek adalah sebuatan untuk kos-kosan berbentuk bangsal memanjang yang berisi rumah-rumah kecil seperti perumahan tentara. Satu rumah terdiri dari teras, ruang tamu, kamar tidur dan kamar mandi. Biasanya iap bedek di isi dua orang.

Mau berenang? Kubangan sih banyak karena memang lahan gambut itu kan berawa-rawa juga. Tapi kalau kolam renang, kata orang-orang yang saya tanyai sih nggak ada. Nah, akhirnya siklus kehidupan di sini ya kos-kosan, kampus, kos-kosan lagi. Kalau yang cowok sih masih bisa maen futsal di sore hari di lapangan kampus. Mau ngetem di perpustakaan kampus juga, perpustakaannya tutup jam 4 sore.

Sebenarnya kampus Unsri itu berdiri di 4 lokasi. 3 kampus berada di Kota Plembang dan satunya berada di kota (masih berat menyebutnya kota) Indralaya ini. Akan tetapi kampus utamanya ya kampus yang di Indralaya ini. Kampus yang di Palembang hanya untuk program D3, Extension, dan Pasca Sarjana serta Kedokteran khusus untuk mahasiswa semester 2 ke atas. Kampus iniceritany adalah World Class University dan katanya lagi adaah kampus terbaik di luar Jawa (kata orang Univeristas Andalas, kampus merekalah yang terbaik di luar Jawa, begitu juga kata orang USU. Unhas pun bilang begitu. Hehe…!).

Kampus ini mempunya terminal bus di dalam kampusnya. Setiap jam ada bus khusus yang pulang pergi dari kampus ini ke kampus D3 dan Ekstension di Palembang sana. Dan intensitasnya semakin tinggi ketika jam-jam masuk kuliah atau siang ketika banyak kelas yang sudah selesai belajar. Ada dua pilihan bus yang bisa membawa anda kelar dari kampus ini. Yang berwarna kuning adalah bus dengan rute Unsri Indralaya-Unsri Bukit (di Kota Palembang) dan bus yang berwarna putih-hijau akan membawa anda ke pasar 16 Ilir, pasar tertua di Pinggir sungai Musi yang terletak persis di ujung Jembatan Ampera. Kalau anda ingin bermain-main ke kota, maka naiklah bus hijau. Tapi kalau saya lebih suka naik bus warna kuning karena lebih nyaman dan tenang tanpa bunyi-bunyian musik berisisk nggak jelas yang biasanya memenuhi bus kota di sini. Walaupun tujuan saya bukan ke Unsri Bukit, saya bisa naik Trans Musi (buswaynya Palembang) yang nyaman dan adem di halte Unsri Bukit untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai tempat di kota Palembang.

Saya tidak merekomendasikan siapa pun untuk berwisata ke Indralaya ini. Kecuali bagi anda yang tergila-gila dengan keindahan lahan gambut nan luas yang terhampar di daerah ini. Tapi memang indah kok, di kanan-kiri jalan yang berawa anda akan mendapatkan teratai putih dan merah bermekaran.

Palembang 2# Musi River Tour

Seminggu setelah tinggal di Palembang, manager kantor saya di Palembang, Mas Agung mengajak kami untuk river tour. Saya yang sudah penasaran untuk naik perahu menyusuri sungai Musi seperti yang diceritakan oleh Tantowi Yahya dalam lagunya Sebiduk Sungai Musi (hayo..! pada tahu kan lagu itu?) menyambut gembira ajakan itu. Lagipula ini kesempatan untuk memperkuat tim. Semacam outing gitu lah. Tujuan kami siang itu adalah berperahu menuju Pulau Kemaro. Pulau yang menjadi salah satu tujuan wisata itu terletak di tengah-tengah sungai Musi ke arah hilir.

Berhubung ini akhir pekan, kawasan Ampera penuh dengan oleh pengunjung yang berwisata di Sungai Musi ataupun mengunjungi museum dan sekedar makan siang dan menikmati kuliner khas Palembang sambil duduk-duduk di tepi sungai. Ampera adalah sebutan untuk kawasan sepanjang pinggir sungai di sekitar jembatan Ampera. Daerah yang patut dikunjungi di sini adalah istana Sultan yang sekarang menjadi musem, benteng Kuto Besak peninggalan Sultan Badruddin dan Mesjid Agung yang berarsitek khas Palembang.

Dengan membayar 70 rebu perak untuk 6 orang, kami sudah bisa pulang pergi ke Pulau. Ada dua pilihan perahu yang bisa dipakai. Kalau anda ingin merasakan sensasi ngebut di atas sungai, maka pilihan yang tepat adalah naik speed boat kayu yang ngebutnya gila-gilaan. Akan tetapi kalau hanya ingin menyususri sungai sambil menikmatinya dengan santai, pilihan yang tepat adalah perahu motor biasa. Naik perahu motor ini membuat deg-degan juga. Setiap speed boat lewat yang menciptakan ombak yang membuat perahu motor yang kami tumpangi oleng hebat. Saya sampai takut banget perahunya bakal terbalik. Sampai malu dengan gadis-gadis tim kami yang santai saja menikmati perahu yang oleng.

Sungai Musi ramai dipenuhi oleh kapal-kapal tongkang dan kapal barang yang bongkar muatan. Belum lagi perahu-perahu wisata dan bus air yang hilir mudik mengantar penumpang. Apalagi kawasan pabrik PT.Pupuk Sriwijaya terbentang sepanjang sungai itu. Kapal-kapal pengangkut pupuk dan bahan baku pembuatan pupuk memenuhi sepanjang sungai. Selain itu kapal penumpang tujuan Pulau Bangka juga berlabuh di dermaga sungai Musi.

Sepanjang sungai ini juga berdiri beberapa ‘SPBU’ terapung yang siap melayani perahu motor yang butuh bahan bakar. Sepanjang tepian sungai berdiri rumah-rumah warga yang setengah terapung. Sebagian bahkan berdiri di atas sungai sepenuhnya. Anak-anak kecil tampak bergembira menimati sore hari dengan meloncat dari atas kapal-kapal yang bersandar atau dari beranda rumah mereka ke dalam sungai. Wah, kalau mencari bibit atlet renang dan loncat indah, seharusnya Pelatnas tinggal hunting di sepanjang sungai ini. Salah satu perkampungan tua yang berjejer rapi di sepanjang sungai ini adalah Kampung Arab. Lucu juga mebayangkan bagaimana nenek moyang mereka yang terbiasa hidup di gurun di tanah asalnya harus beradaptasi untuk hidup di atas sungai.

Ada satu hal yang patut disayangkan terkait dengan sungai Musi ini. Tampaknya warga sepanjang sungai sudah menjadikan sungai Musi sebagai halaman belakang rumah mereka. Tahu sendiri kan bagaimana kalau sungai sudah dijadkan halaman belakang? Sungai akan menjadi tempat membuang hajat, tempat membuang sampah dan tidak terpelihara lagi. Padahal ketika zamannya sungai Musi masih menjadi satu-satunya urat nadi transportasi, rumah-rumah itu menghadap ke sungai. Kasus yang hampir terjadi di semua sungai di Indonesia.

Setelah menepi sebentar untuk membeli makanan, kami menikmati makan siang kami di atas perahu yang melaju menyusuri sungai Musi. Makan siang menjadi berlipat nikmatnya karena dinikmati di atas perahu kayu kecil yang membelah sungai. Setelah mengantar ke Pulau, tukang perahu akan setia menunggu anda di dermaga pulau.

Di tengah pulau Kemaro berdiri sebuah Klenteng tempat beribadah masyarakat Palembang yang beragama………. Pulau yang diteduhi oleh pohon-pohon besar ini selalu ramai dikunjungi oleh penziarah atau mereka yang sekedar ingin berwisata. Saya agak lupa asal-usul pulau ini seperti yang tertulis di prasasti di tengah-tengah pulau. Yang saya ingat sih, dulunya ini tempat seorang Putri bernama Siti Fatimah yang dipersunting oleh prajurit cina tinggal.

Hari beranjak sore ketika kami berperahu meninggalkan pulau. Menimati sore hari sambil menyusuri sungai Musi benar-benar indah. Semburat lembayung sore yang berwarna jingga terpantul indah di permukaan sungai Musi dengan jembatan Ampera yang membentang kokoh di atasnya.

Palembang 1# You Jakarta Better Watch Out!

Palembang in my Mind; You Jakarta Better Watch Out!
Pertama kali menapakkan kaki di kota ini saya merasa de javu. Saya seperti pernah berada di kota ini sebelumnya. Jalan-jalan lebar searah, panas yang menyengat, kendaraan yang memadati badan jalan dan halte-halte sepanjang jalan. Yup, Kota ini mirip Jakarta. Mirip panasnya, mirip padatnya dan hampir mirip macetnya.

Sungai Musi

Berbicara tentang Palembang tidak bisa dipisahkan dengan berbicara tentang sungai Musi. Mendengar nama Musi, saya langsung teringat sebuah lagu country yang dinyanyikan oleh Tantowi Yahya untuk mengenang sungai Musi. Sungai inilah saksi bisu peradaban-peradaban besar yang timbul dan tenggelam di Palembang ini. Sungai ini menjadi saksi kebesaran peradaban Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya pernah meliputi beberapa Negara di ASEAN sekarang. Akan tetapi, sulit sekali mendapatkan sisa fisik peradaban Sriwijaya di kota Palembang sekarang. Kebanyakan arca-arca peninggalan Sriwijaya ditemukan jauh dari kota Palembang dan Sungai Musi.

Seperti peradaban-peradaban tepian sungai lainnya, Sungai musi menjadi pusat aktifitas sejak zaman kerajaan dahulu. Pasar Ilir 16 (pasar tua yang berdiri sejak tahun 20-an), Masjid Agung Palembang (masjid Sultan), Istana Sultan dan Benteng Kuto Besak terletak di tepi sungai Musi.

Ketika istana Kuto Gawang yang menjadi representasi kekuasaan Kerajaan Mataram dibumihanguskan oleh Belanda dalam sebuah penyerangan, Sultan Badaruddin II pun meminta bantuan kepada Raja Mataram di Jawa namun tidak ditanggapi. Kesal dengan keacuhan Kerajaan Mataram, Sultan inipun memutuskan untuk tidak bergantung lagi dengan kerajaan di Jawa tersebut dan bertekad mendirikan sebuah kekuasaan yang berdiri sendiri. Untuk menggantikan istana yang hancur rata dengan tanah, beliau mendirikan sebuah istana persis di tepian Sungai Musi berdampingan dengan Benteng Kuto Besak. Konon inilah satu-satunya benteng yang dibangun oleh pribumi untuk mempertahankan diri dari serangan penjajah.

Sampai sekarang Istana dan benteng tersebut masih berdiri kokoh menceritakan kebesaran Palembang masa lampau kepada dunia. Benteng Kuto Besak masih memegang fungsinya sebagai tempat pertahanan. Benteng itu sekarang menjadi KODAM dengan bangunan asli yang masih dipertahankan. Sedangkan Istana Kesultanan beralih fungsi menjadi museum namun kurang terawat.

Tepian sungai Musi sekarang sudah didesain menjadi public space yang selalu ramai dipenuhi oleh pengunjung yang sekedar bercengkerama sambil menikmati kudapan khas Palembang dan menikmati petunjukan para pemusik jalanan. Restoran-restoran yang berdiri di atas sungai siap memanjakan lidah dengan pilihan menu yang khas. Anda juga bisa menikmati makan siang atau makan malam anda di atas perahu yang melaju perlahan membelah sungai. Setiap sore tepian sungai ini sangat ramai pengunjung. Dan pengunjung akan memadat pada akhir pekan dan hari libur.

Jembatan Ampera
Di depan Masjid Agung yang berarsitek khas Palembang, hasil perkawinan budaya Melayu, China dan Jawa terbentang jembatan Ampera yang menghubungkan Kota Palembang bagian seberang dengan daerah-daerah di seberangnya seperti Kertapati dan Plaju. Kota-kota lain seperti Prabumulih, Muara Enim, Kayuagung dan Indralaya juga bergantung kepada jembatan ini untuk bisa terhubung dengan kota Palembang. Jembatan yang dibangun pada tahun 1940-anini menjadi landmark kebangaan kota Palembang.

Jembatan Ampera menjadi daya tarik tersendiri ketika malam turun di tepi sungai Musi. Besi-besi kokoh dan kendaraan yang melaju di atasnya berubah menjadi jembatan lampu yang kelap-kelip dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak di atasnya. Duduk di pinggir sungai sambil memandang jembatan Ampera pada malam hari membuat saya sedikit sentimentil. Malam akan semakin sempurna kalau anda menikmati makan malam anda di salah satu restoran di tepi sungai dengan pemandangan kea rah Jembatan Ampera. Ehmm…apalagi bersama orang-orang tersayang.

Trans Musi
“Palembang Menuju Kota Internasional”. Spanduk-spanduk bernada serupa terpampang di berbagai tempat umum di tengah kota. Pemerintah kota memang sedang mencanangkan kota ini menjadi kota yang bertaraf Internasional. Walaupun begitu, saya bingung, kota yang bertaraf Internasional itu seperti apa. Tapi kalau buat saya, saya punya kriteria sendiri untuk sebuah kota yang bertaraf Internasional. Kota itu harus nyaman, aman, akses mudah dan harus hijau!

Belakangan saya punya hobi baru. Saya sangat suka naik kendaraan umum terutama bus. Makanya, ketika tahu di Palembang ada RTB dengan armada bus Trans Musi (seperti Transjakarta), saya langsung penasaran ingin mencobanya. Bedanya dengan Transjakarta, Trans Musi masih pakai system manual. Jadi tiket tidak dibeli di loket tapi dibeli di atas bus yang dilayani oleh dua orang pramugara. Tapi, kalau nyamannya sih, lebih nyaman Trans Musi lah. Secara tidak terlalu padat penumpang seperti Transjakarta. Hanya saja Trans Musi belum menjangkau sampai ke seberang sungai walaupun platform dan haltenya sudah dibangun. Tapi pada 2011 ini, Trans Musi direncanakan sudah bisa menjangkau semua pelosok kota sampai ke Airport pun.

Asyiknya kalau naik Transmusi, dengan tiket bus itu, anda bisa langsung menyambung perjalanan anda dengan bus air menyusuri sungai musi tanpa perlu membayar lagi.

Selain Trans Musi, di sini tersedia angkot dan bus kota. Seperti bus kota di kota-kota besar di Indonesia, angkot dan busnya tentu saja tua dan reot. Tarifnya juga hanya 500 perak lebih murah daripada Trans Musi. Hanya saja bus kota dan angkot menjangkau semua tempat di Palembang dan sekitarnya. Tapi siap-siap saja untuk menyesuaikan kuping dan menyiapkan jantung anda. Soalnya bus-bus ini selalu memutar music keras-keras dengan music house remix tung tang tung tang itu. Dekor Interiornya dangdut banget.pinggir langit-langit bus dipenuhi oleh rumbai-rumbai dengan bunga-bunga imitasi berwarna-warni yang disangkutkan di setiap lubang yang ada di bus.

Sea Games
Sumatera Selatan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri menyambut Sea Games 2011. Sumsel akan menjadi tuan rumah untuk ajang pertandingan olahraga se-Asia Tenggara ini. Makanya, pembangunan infrastruktur sedang dikebut untuk memenuhi akomodasi peserta Sea Games. Hotel berbintang lima, convention centre, stadion dan fasilitas lainnya tiba-tiba bermunculan di sudut-sudut kota. Sepertinya Trans Musi ini pun bagian dari fasilitas yang disiapkan untuk menyambut hajatan besar ini.

Dari Hasil ngobrol-ngobrol saya dengan penduduk lokal, kota Palembang berambisi untuk menggantikan Jakarta menjadi ibu kota Indonesia. Apalagi di tengah isu pemindahan ibu kota yang sempat menghangat karena Kota Jakarta yang semakin tidak layak untuk dijadikan ibu kota. So, Jakarta, you better watch out!

Ada untungnya juga sih, Sea Games diadakan di sini. Pemerintah jadi terdorong untuk membenahi kotanya. Tapi, jangan sampai lah kota secantik Palembang ini mengalami nasib seperti kota-kota besar di Jawa. Tata ruang yang buruk dan tidak ramah lingkungan. Kota yang bagus menurut saya adalah kota yang humanis. Kota yang mengakomodir kepentingan penduduknya bukan kepentingan industry semata. Kota yang memberikan ruang bagi penduduknya untuk lebih mudah berekspresi dan menikmati hidup.
Note:
Ref. Sejarah diambil dari Diorama Palembang Tempo Dulu di Museum Istana Sultan Badruddin II Palembang.

Padang 2# Padang-Palembang Trip; Across the Sumatran Jungle

Melintasi rimba Sumatera dahulu hanyalah imaginasi hasil bacaan buku-buku yang saya baca ketika masih kanak-kanak. Tapi sekarang saya benar-benar sedang di atas bus yang menyususri jalan lintas sumatera bagian barat. Melewati hutan, daerah pertambangan, lahan-lahan pertanian para transmigran membuat saya tidak tidur sepanjang siang sampai petang sejak berangkat dari Padang. Pemandangan di luar jendela terlalu sayang untuk dilewatkan. Sambil melayangkan pandangan menembus kaca jendela bus sesekali saya mengobrol dengan ibu-ibu Padang yang duduk di barisan kursi di samping saya. Sementara Adri, salah seorang tim yang saya bawa dari Padang, terlelap di kursinya sejak tadi.

Ada satu daerah berhutan sebelum Dharmasraya yang membuat saya berdecak kagum. Jalanan yang dilewati oleh bus diapit oleh dua bukit tinggi yang menyisakan lembah sempit yang cukup untuk jalan raya di bawahnya. Saya merasa sangat kecil seperti terhimpit dua bukit dengan hutan lebat itu. Sungai-sungai berair jernih mengalir searah dengan jalan yang dilewati bus.

Selain karena pemandangan hutan dan alam di luar jendela bus, ada satu hal yang membuat saya suka memandang ke luar. Saya selalu penasaran untuk tahu nama daerah atau desa yang saya lewati. Inilah beberapa nama daerah yang saya lintasi yang mampu saya rekam sebelum malam menjelang dan saya terlelap bersama deru mesin bus; Solok-Sawahlunto-Sijunjung-Muara Langsat-Kambang Baru-Kiliran Jao-Sungai Kambut-Pulau Punjung-Sungai Dareh-Jambi-Banyuasin-Palembang.

Penumpang bus yang saya tumpangi ini sebagian besar adalah para perantau dari Padang ke Jakarta. Apa yang digambarkan oleh film ‘Merantau” itu ternyata tepat sekali. Masyarakat Minang punya tradisi untuk merantau.ibu di samping saya misalnya, beliau akan ke Jakarta untuk mengantarkan anaknya yang diterima bekerja di sana sekaligus mencari peluang untuk melebarkan usaha rumah makannya di Jakarta. Wuih…otak bisnis benar.

Setelah sekitar 19 jam melintasi bagian barat pulau Sumatera, jam 7 pagi saya sampai di kota Palembang. Di jemput Mr. Agung, manajer kami untuk cabang Palembang saya diantar ke penginapan. Wuih…., 19 jam di atas bus mengingatkan perjalanan mudik saya semasa mahasiswa dulu. Bedanya, kalau saya mudik bus yang tersedia banyak dan semuanya eksekutif. Jadi nyaman. Sedangkan bus yang saya naiki sekarang memang judulnya eksekutif. Di tiketnya juga tertulis begitu. Apalagi di Jawa bus ini memang bercitra ekslusif. Citra ekslusif itu langsung luntur ketika mendengar alunan music yang mengalun dari audio bus. Campursari men..!!

Aduh nggak di Jawa, nggak di Sumatera kok music ini melulu sih. Kok bukan Musik Minang atau Musik Melayu? Bukannya apa-apa, melintasi rimba Sumatera dengan iringan music campursari rasanya nggak nyambung banget. Feelnya nggak dapat! Kalau sedang melintasi jalur Pantura sih emang pas banget. Bolak-balik kuping saya mati rasa mendengarkan cengkokan genit penyanyi campursari yang diputar dalam volume maksimal itu. Kalau lagunya “Stasiun Balapan” atau “Terminal Tirtonadi” sih hati saya masih bisa ikut berdendang. Bahkan mungkin saya akan ikut bersenandung walaupun suara saya ini ngepas banget. Pas banget hancurnya maksud saya. Tapi kan kalau ditutupi suara Mas Ndidi Ngempot (iku ejaan Njowone acene koyok ngene kan yo rek yo?) itu suara saya pasti akan kedengaran bagus juga kan?

Kalau tadi Citra ekslusifnya luntur, sekarang pupus sama sekali. Apa pasal? Gimana nggak pupus kalau kenyataannya saya duduk dalam bus tapi kok di samping saya ada air terjun mini yang terus menetes sampai airnya mengalir. Benar sih saya suka alam dan sekarang sedang melintasi hutan Sumatera, tapi ya mbok air terjunnya jangan ikut dibawa-bawa masuk bus. Saya memang suka belajar dengan gaya visual, tapi kalau untuk ini kayaknya pengecualian deh. Rupanya, ada masalah dengan AC bus EKSEKUTIF ini. Atau mungkin AC itu singkatan dari ‘Air crut…crut..!’ ya?

Overall, perjalanan saya dengan bus EKSEKUTIF ini sangat menyenangkan. Seru malah. Tapi ada satu lagi yang mengganjal. Ketika malam hamper turun, bus berhenti di Sungai dareh untuk memberikan kesempatan buat penumpangnya mengisi perut. Karena mudik naik bus sudah menjadi tradisi saya, maka saya menganggap fasilitas bus eksekutif di mana saja sama. Makanya ketika sydah duduk di kursi rumah makan Padang itu, saya makan dengan tenangnya sambil menggenggam tiket di tangan. Anggapan saya adalah makanan kita ini adalah bagian dari pelayanan bus eksekutif itu. Saya baru tercengang ketika penumpang-penumpang yang lain satu-persatu menuju kasir setelah menyantap hidangan mereka. Oalah…, BDD toh? Bayar Dewe-Dewe! Padahal dari malang ke Bali yang harga tiketnya Cuma 80 rebu aja kita dapat jatah makan malam loh. Untunglah saya membawa uang cash yang cukup.

Tips:

• Perjalan darat melalui jalan lintas Sumatera patut dicoba. Apalagi buat anda yang punya jiwa jalan-jalan terutama jiwa backpacker. Selain lebih murah daripada harus naik pesawat yang semuanya transit di Jakarta terlebih dahulu, anda punya kesempatan buat melihat kehidupan Suku Kubu (dari dalam bus tentunya, kecuali anda mau singgah dan menjadi santapan mereka. Nggak ding….! Mana ada orang yang nyantap orang di era digital kayak gini selain Sumanto?).

• Bus yang khusus melayani rute Padang_palembang tidak ada. Yang ada hanyalah bus dengan Rute Padang-Jakarta-Bogor, Solok-Jakarta-Solo-Ponorogo-Banyuwangi-Padang Bai (ujung timur P. Bali) dan sebagainya. Tapi jangan khawatir, anda bisa menumpang bis-bis tadi dan minta turun di Palembang karena memang dia akan berhenti di sana untuk menaikkan penumpang. Bus berangkat dari Padang pukul 10 pagi setiap harinya. Bus EKSEKUTIF yang saya naiki itu harga tiketnya Rp. 245.000,-.

• Berhubung ini perjalanan panjang melintasi hutan, pastikan tubuh anda dalam kondisi fit. Siapkan perbekalan minuman dan makanan ringan secukupnya. Jangan lupa membawa buku bacaan. Kalau tidak anda akan mati garing, terutama buat anda yang menganggap hutan, sungai dan gunung itu bukan pemandangan indah. Siapkan juga mental anda, karena begitu meninggalkan kota Padang, bus anda akan terseok-seok melewati jalanan berkelok mendaki yang sempit. Kadang-kadang bus akan berhenti di tanjakan dengan susah payah untuk memberi bus yang lainnya untuk lewat. Jadi, bersiap-siaplah untuk senam jantungJ

• Sebenarnya ada pilihan lain. Anda bisa naik travel dengan armada Avanza atau Innova. Cukup membayar Rp. 300.000,- anda bisa sampai lebih cepat dibandingkan naik bus. Selisih waktunya sekitar 6 jam. Dari Padang jadwal berangkatnya jam 3 sore dan tiba di Palembang pukul 5 atau 6 pagi.

• Pastikan membawa bacaan karena ‘bingkai’ keindahan versi anda belum tentu sama dengan yang saya miliki. Mungkin saja anda akan bosan melihat pemandangan hutan melulu.

Nah, bagi anda yang ingin mencoba, have nice trip deh!

Previous Older Entries Next Newer Entries