Padang 5# Eva dan Payungnya


Setelah sekita dua bulan berpindah-pindah kota di Jawa, sekarang saya kembali berada di Padang. Walaupun sempat kena “mellow-attack”, sekarang saya sudah kembali ceria lagi. Nggak usah Tanya kenapa saya kena mellow attack karena itu siklus tahunan saya. yang terang saya sekarang saya sudah bisa menikmati lagi sekelililng saya. Saya sudah bersemangat lagi untuk jogging sepanjang pantai. Saya sudah bisa menikmati lagi hal-hal kecil di sekitar saya lagi.

Ketika selesai dari meeting dengan client hari minggu yang lalu, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Angin kencang yang menderu-deru di tengah hujan menambah kesan seram. Perut saya lapar dan kafe plus tempat makan di sekitar kantor klien saya itu nggak ada yang buka. Sepertinya mereka sudah kebanyakan duit. Ketika saya asyik melamun dan imaginasi saya sudah kemana-mana, saya dikejutkan oleh dua orang anak kecil yang datang menawarkan payung. Wow, di tengah hujan deras berangin begini, dua orang anak perempuan datang menawarkan payung. Pandai sekali mereka melihat kesempatan ya? Mereka tahu sekali apa yang dibutuhkan oleh calon konsumen pada saat-saat seperti ini. Walaupun di Jakarta ini hal biasa, tapi buat saya ini menakjubkan melihat dua bocah perempuan menembus huan untuk menyambut kesempatan mendapatkan uang. Apalagi tempat saya berdiri ini sepi dan lumayan jauh dari main street. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai jasa mereka.

Terdorong oleh rasa penasaran, saya membuka obrolan dengan anak perempuan yang memayungi saya. saya hanya perlu bertanya nama dan di mana dia sekolah. Setelah itu tanpa sungkan sedikitpun dia bercerita kepada saya tentang sekolahnya, tentang pelajarannya. Dia juga bertanya kepada saya apa pekerjaan saya, di mana saya tinggal, kok bisa sampai di kota ini. Dia juga meminta saya lebih merapat karena air hujan membasahi backpack saya. Nampaknya anak ini cukup cerdas. Perjalanan menuju jalan utama sambil menahan payung supaya tidak diterbangkan angin menjadi begitu mengasykkan mendengarkan celoteh anak kecil ini.

Kita banyak melihat pengamen cilik di jalanan. Tapi pernahkah kita berpikir kalau mereka itu sebenarnya calon entertainer kalau diarahkan degan baik? Di saat anak-anak lain harus didorong untuk pede tampil di depan umum, para pengamen cilik sudah tampil di depan ribuan penonton. Kita sering melihat pedagang asongan cilik yang lantang menawarkan dagangannya, tapi pernahkan kita berpikir bahwa mereka sedang merintis jalan mereka untuk berbisnis. Di tengah usaha para orang tua untuk menanamkan nilai kemandirian dan bisnis kepada anak-anak mereka, mereka sudah berpraktik di dunia nyata.

Mereka hanya perlu disuntikkan motivasi dan pengetahuan tentang apa yang tengah mereka kerjakan. Kita hanya perlu mendukung mereka dengan menitipkan mimpi besar dalam pekerjaan mereka. Karena bisa jadi si pedagang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari berbisnis. Siapa tahu si tukang payung cilik itu adalah salesman jasa yang gemilang di masa yang akan datang. Siapa tahu si pengamen adalah entertainer ulung nantinya. Itulah yang saya suntikkan kepada Eva, nama gadis kecil tukang payung yang melindungi saya dari basah kuyup karena hujan sore itu. Dalam percakapan singkat saya, saya menanamkan motivasi dan mimpi kepadanya. Dengan bahasa anak-anak tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: