Pontianak Snapshoot

I’ve been busy lately. It’s very hard to have free time just to have a cup of coffee and write this blog. however, during Ied Day my friend took me for city tour (actually it’s a silaturrahim).

Here are some pic I took during my ‘Lebaran’ and Kapuas Tour

Qodariyah Palace. It was the place of Pontianak Sultanate.

The remain of the glory! It is a past people! so come on, wake up!

Menembus Senja di Kapuas

Senja di Kapuas

the ancient mosque of Sultanate

no comment!

lembayung senja di Kapuas. Ini adalah suasan ketika sore mulai menyelimuti kota Pontianak

Meriam! Dentumannya dahsyat. membuyinakn meriam pada hari-hari menjelang lebaran adalah tradisi masyarkat pontianak pinggir sungai

at Bang Nur (a chairman of Mujahidin Media Corporation)'s house

at Vidya's Family

Katana bang Aji (manager di kantor saya) yang setia membawa kami kemana-mana! Karena Katana ini terlalu sesak buat kita, doakan Bang Aji biar diganti dengan yang lebih gede yuk! (bukan truk loh ya!)

Advertisements

Pontianak #1; Love at the First Sight

Bangunan di Pinggir Sungai

Saya sampai di kota ini hampir tengah malam. Jadi, saya tidak bisa melihat banyak dalam remang-remang kota. Tapi yang pasti, kota ini mempunyai banyak sungai dan kanal. Itu saya simpulkan karena dalam perjalanan dari pelabuhan ke rumah sahabat saya, Ridho, saya melewati beberapa jembatan besar dan kecil beserta kanal-kanal kecil di kiri kanan jalan.

Keesokan harinya lah saya baru bisa melihat kota ini secara jelas. Hal yang paling menonjol adalah jalur sungai Kapuas yang membelah kota. Selain sungai Kapuas, sungai besar yang membelah kota ini adalah sungai landak. Makanya, untuk mencapai rumah sahabat saya itu, saya harus melewati dua jembatan panjang. Selain sungai besar tadi, hampir di kiri-kanan setiap jalan terdapat kanal-kanal (mau dibilang parit, terlalu besar) kecil.

Saya membayangkan kanal-kanal dan sungai di kota ini ditata dan dijadikan wahana wisata seperti kota air Venesia. Pasti tidak kalah cantik. Lagu opera yang dinyanyikan oleh mas-mas pendayung Italia itu diganti dengan dendang Melayu dengan iringan akordion. Wuihh….eksotis banget deh!

Tata kotanya hampir-hampir sama dengan kota Samarinda di Kalimantan Timur. Bedanya, Samarinda hanya dibelah sungai Mahakam sedangan Pontinak selain dibelah oleh sungai Kapuas juga dilintasi oleh sungai-sungai kecil dan kanal-kanal yang bejibun. Kalau di Samarinda, ada jalan besar yang langsung menyusuri sungai, disini tanggul sungai dipenuhi oleh bangunan.

Satu lagi yang membuat kota ini benar-benar unik adalah keberadaan etnis Cina yang begitu mendominasi. Di sepanjang jalan pasti bisa dijumpai koko-koko dan cici bermata sipit. Bedanya dengan etnis Cina di Jawa, chinese di Pontianak sangat berbaur. Profesi mereka pun bermacam-macam. Mulai dari petani, buruh pabrik, tukang becak sampai tauke-tauke besar. Dan tentu saja mereka adalah penguasa Ekonomi disini. Hanya di Pontianak saya melihat koko-koko putih bermata sipit sedang memanggul sayuran dari kebun atau mandi pagi di tepi sungai Kapuas. Begitu juga di sekolah umum yang menjadi client kantor saya, saya mendapati beberapa guru yang beretnis Cina. Agak susah juga sih membedakan mana etnis cina dan mana yang etnis dayak. Maklum, kulit dan mata mereka serupa. Putih-putih dan sipit. Tapi kata teman saya, kulit etnis dayak putihnya beda. Lebih pucat.

Setelah mengobrol dengan salah satu penduduk lokal, saya jadi tahu mengapa tiket pesawat dari Jakarta maupun Surabaya dengan tujuan Pontianak menjadi mahal gila. Rupanya ini high season karena Chinese yang ada di Jakarta dan Surabaya ramai-ramai mudik ke Pontianak untuk sembahyang kubur. Sebuah ritual rutin dua tahunan.

Dengan jumlah etnies Cina yang begitu banyak, jumlah warga Muslim di Pontianak hanya sekitar 52%. Itu yang saya dengar dari kajian di sebuah masjid yang saya ikuti pada hari kedua saya tiba di kota ini.
Hmm….saya masih punya waktu lebih dari 1 bulan untuk mengeksplore kota ini lebih dalam. Saya rasa, saya jatuh cinta dengan keunikannya.

Bali Sekali Lagi 5# Favourite Dining Place


Travelling rasanya tidak lengkap bila tidak dilengkapi dengan kuliner khas tempat yang dikunjungi. Sayangnya, selama liburan saya di Bali yang lalu saya tidak berkesempatan untuk mencicipi masakan khas Bali. Selain karena saya rada-rada takut akan kehalalannya, pengetahuan saya juga minim tentang masakan khas Bali*padahal kan ada Mbah Google*, membuat saya tidak pernah berpikir untuk mencobanya. Lagipula liburan versi saya adalalah beach, beach and beach. Iye…simple banget kan liburan saya? Jauh-jauh, hanya untuk berenang sampai kulit item legam.

Tapi berhubung karena saya harus bertanggung jawab terhadap teman saya si Bule Swiss itu, makan-makan enak pun masuk dalam agenda saya karena saya nggak mungkin dong ngajak dia makan nasi bungkus di pinggir jalan. Paling aman sih, makan seafood. Aman buat saya dan tentu saja istimewa buat bule Swiss yang nggak punya laut itu. Akhirnya dengan modal nekad dan sok tahu saya, saya menemukan tempat makan yang super-super enak *hanya ada dua rasa makanan menurut saya; enak dan enak sekali*. Sialnya, yang menurut saya enak sekali, kadang-kadang menjadi biasa saja di lidah bule Swiss yang sama sekali tidak punya adventurous feeling itu. However, there are some places I chose was confirmed as a perfect place and perfect food too. Here are some dining places I recommend*again versi saya loh ya*:

Choco Resto

Mini Bar Choco Resto

Restaurant fine dining ini berada di kawasan Bali Collection, Nusa Dua. Tempatnya outdoor dengan meja-meja yang ditata di bawah pohon beringin raksasa yang membuat suasananya teduh dan adem. Enak banget buat tempat lunch setelah sepagian berenang di Nusa Dua Beach yang ombaknya tidak terlalu besar. Interiornya juga menurut saya cantik banget.

Disini saya memesan King Prawn dan Avocado Juice sebagai menu makan siang. Fuih…juice segar itu terasa segar sekali ketika mengaliri tenggorokan saya.

Menu King Prawn di restoran ini adalah udang (ya iyalah, udang!) yag dimasak dengan saus putih kental (berhubung saya bukan ahli kuliner, saya nggak tahu namanya) dan disajikan dengan kentang rebus yang dipotong dadu dan tumisan wortel dan sayuran lain. Hmm…kentangnya itu loh, enak banget!

Perut kenyang dan angin sepoi-sepoi membuat mata saya berat sekali. Bawaaannya pengen tidur saja. Dengan perut kenyang saya memacu motor kea rah pantai dan langsung merebahkan badan di atas pasir putih empuk di bawah pohon dan zzzz….!

Cafe Bali

Cafe Bali

Cafe Bali, terletak di Jl. Laksamana (Oberoi) yang merupakan dining point di Seminyak.
Kita sih nggak sengaja milih restoran ini karena memang ketemunya pun tidak sengaja waktu kita malam-malam lapar banget balik dari pantai. Asal masuk saja karena menunya cocok. Another kind of fine dining restaurant which serves Indonesian, Dutch and French food. Letaknya persis di samping Moroccan restaurant (Khaima) di jalan yang menuju ke Seminyak Square. Interior bangunannya didominasi kayu bergaya colonial. Mirip bangunan rumah-rumah tua Belanda di Jawa dengan jendela-jendela yang lebar dan tinggi. Lampu gantung menghiasi beberapa sudut terutama di mini barnya. Orang-orang yang dinner disini, hampir semuanya dress up. Laki-laki pake hem dan bersepatu rapi sedangkan yang perempuan tampil dengan nnight gown. Kontras sekali dengan penampilan saya dan si Bule Swiss yang hanya pakai celana pendek dan kaus kotor karena kelamaan di pantai. Halah,pede aja lagi, cuma mau isi perut ini. Tempatnya ramai sekali dan hanya tersisa beberapa menja yang belum direservasi.

Suasananya memang romantis sekali. Di setiap meja terdapat basin berisi air yang penuh terisi kelopak-kelopak mawar merah yang lamat-lamat menyebarkan wangi khas. Menu yang tersedia mulai dari IndonWell done Tenderloin with bernaisse sauce yang dihidangkan dengan French fries benar-benar nikmat sekali. Porsinya cukup membuat saya kekenyangan dan ingin segera merebahkan badan di kamar hotel.

Tenderloin with Bernaisse Sauce

Oh ya, restoran ini juga berfasilitas free Wi-fi. Jadi kalau mau dinner yang tenang sambil online, disini tempatnya. Soalnya nggak ada bule-bule Australia tukang ribut, adanya mas-mas dan mbak-mbak cakep Eropa dengan tampang Latino dan Italiano gitu.

Bamboos Corner (Kalo Tidak Salah)
Tempatnya kecil dan agak nyelip masuk ke Poppies Lane 1. Saya sangat suka dengan steaknya, walaupun kata Si Bule swiss itu dagingnya telalu keras. Harganya juga terjangkau banget. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat saya menginap, membuat restoran ini menjadi tempat favorit buat dinner kalau lagi malas keluar jauh-jauh. Cukup nyeberang jalan dan menyusuri lorong sebentar, sampai deh. Menunya lumayan lengkap tapi buat saya tetap saja makannya steak plus extra French fries yang membuat saya kekenyangan.

Suatu kali si Bule Swiss itu memesan menu di restoran ini dengan sok-sok pake bahasa. Memang menunya dalam bahasa Indonesia sih.

“Mbak, satu kumi-kumi pedas”*maksudnya cumi-cumi pedas*
“Are sure wanna take that menu?” saya
“Yep! Why?”
“It is spicy. Very hot! Cumi-cumi pedas means spicy squit” saya
“haa…! So, can I order cumi-cumi pedas tidak pedas?”
“Just try!”
“Mbak, steak lada hitam satu buat saya dan cumi-cumi pedas tidak pedas buat dia” saya
“hah, cumi-cumi pedas tapi tidak pedas?” si Mbak
“he’eh! Nggak pake lama ya! Saya
“cumi-cumi pedas tapi tidak pedas” si Mbak bergumam sambil berlalu dari hadapan kami.

Ada juga sih beberapa restoran bagus dan besar tapi mnurut saya makannya, ya gitu deh! Seperti restoran di depan Paddies (club yang dulu jadi korban bom Bali) di legian Street yang meja-mejanya ada yang di taman belakang dan sangat romantis menurut saya. Tapi, nyamuknya banyak banget dan gede-gede pula. Jadilah malam itu saya dinner dengan aroma Baygon obat nyamuk bakarditemani saa nyamuk-nyamuk gede yang ikutan diner juga menghisap darah saya. Haha…what a dinner!

Mini Bar Cafe Bali

By writing this ‘article’ i wish to have some discount when I revisit Bali next year! Harusnya dapat kan ya? Apa perlu saya bawa print out tulisan ini buat dikasi lihat ke kasirnya ya?

Bali Sekali Lagi#3; Pantai di Mata Saya:Dreamland

Pantai Segara Anakan P.Sempu

Tempat wisata apa yang paling anda sukai? Kalau bagi saya, saya paling suka pantai. Saya juga suka gunung, tapi ranknya setelah pantai. Saya jarang tertarik untuk ajakan-ajakan wisata ke arena bermain semacam Jatim Park dan Batu Night Spektacular di kota saya. Kalau sudah menikmati hamparan pasir putih, laut lepas, berenang dan berbaring seharian di pasir, saya bisa lupa makan. Teman-teman saya banyak yang nggak suka pantai karena menurut mereka semua pantai sama saja. Sama-sama berisi pasir dan orang.

Saya tahu Indonesia punya banyak pantai yang spektakuler dan saya baru mengunjungi seupritnya saja. Tapi dari list pantai yang saya kunjungi, pantai terbaik menurut saya adalah pantai Rontu di laut selatan Bima NTB sana dan pantai di Segara Anakan Pulau Sempu Malang. Setelah itu menyusul pantai Dreamland, Nusa Dua, Uluwatu, Kuta dan Seminyak yang semuanya berlokasi di Bali. Sebenarnya sulit untuk membuat rank tentang pantai mana yang paling bagus karena semuanya memiliki keunikannya masing-masing. Tapi saya punya kriteria pantai yang bagus menurut saya. paling tidak pantai itu harus berpasir putih dan lembut, berpasir landai, airnya bersih dan tidak terlalu ramai pengunjung. Nah, Segara Anakan di Pulau Sempu memenuhi semua kriteria itu.

Tapi tulisan kali ini saya hanya ingin bercerita tentang pantai-pantai di bali yang pernah saya kunjungi.

Dreamland

Dreamland dengan langit bali yang biru

Ini adalah pantai terfaforit saya di Bali. Pasir putihnya terhampar di bawah tebing-tebing kapur yang tinggi dengan pemandangan laut lepas yang birunya sangat indah. Memandang jauh ke arah timur, kita akan disuguhi pemandangan tebing-tebing tinggi yang berwarna putih kapur hasil abrasi gelombang samudera hindia beribu-ribu tahun. Di atas tebing itu berjajar vila-vila mewah yang sangat eksklusif. Menyenangkan sekali mereka mempunyai pantai pribadi di depan vila masing-masing.

Si Bule senang banget diajak ke Dreamland

Kalau anda pernah menonton FTV di SCTV, settingnya sering sekali diambil disini. Adegan untuk film “Badai Pasti Berlalu” juga sebagian diambil di sini. Kafe kelapa, satu-satunya restoran dan Lounge di sini, selalu menjadi langganan untuk adegan romantis FTV SCTV. Di belakang kafe tersebut terhampar padang golf dan perumahan elite serta villa-villa yang konon katanya milik putra mantan presiden Indonesia. Pantai initidak terlalu ramai pengunjung. Jadi, anda bisa memilih salah satu sudutnya untuk bersantai dan merasakan seolah-olah memiliki pantai pribadi.

Ombak pantai ini sangat bagus untuk surfing, hampir sama dengan ombak di Uluwatu karena terletak dalam satu garis pantai. Oleh karena itu, lebih banyak yang surfing daripada berenang disini. Tapi bagi saya, ini adalah tempat yang sangat asyik untuk merasakan berenang di atas ombak tinggi yang hempasannya jauh ke pantai. Meluncur di atas ombak tinggi adalah sensasi luar biasa bagi saya. sayangnya, pantai ini tidak memiliki pohon peneduh. Tapi anda bisa berlindung di bawah cerukan tebing yang menyerupai gua yang banyak terdapat di ujung barat pantai.

Reef Cave tempat berlindung dari terik matahari

Banyak yang tidak tahu keberadaan pantai ini karena letaknya di dalam kompleks villa dan padang golf ekslusif Pecatu Estate. Sepertinya pantai yang terletak di sebelah timur Kuta ini pun mempunyai beberapa nama yang berbeda di kalangan penduduk lokal. Dari arah Jimbaran atau Kuta, anda bisa langsung berbelok masuk ketika melihat gerbang Pecatu Estate di kanan jalan. Memasuki gerbang ini saja, anda akan langsung terkesima dengan pemandangan laut biru di ujung padang golf nun jauh di bawah sana.

Pemndangan dari jalan menuju pantai di atas bukit

Mayoritas turis disini adalah wisman asal Korea dan Jepang. Jadi, bagi anda yang fans berat BBF, Sassy Girl Choon Hyang dan gerombolannya, di sinilah tempat anda. Aniyong Seo!

(to be continued)

Bali Sekali Lagi# 2; Abba Masih Berkibar loh Di sini

Saya suka musik dan ngedance tapi nggak suka dugem. Haha… maksud saya, saya tidak suka ke tempat dugem yang berisiknya minta ampun yang memungkinkan saya hear loosing….. saya juga nggak suka berada di tempat ramai gitu karena menurut saya you looks stupid when you come all the way just for music and dance. Saya lebih suka ngedance di kamar dengan music-music pilihan sya sendiri. Tapi itu dulu ketika saya belum tahu dugem di Bali. Walaupun saya nggak ikutan dugem ketika di Bali kemarin (mana berani gue!), saya sempat beberapa malam thowaf ke sekitar tempat dugem di sepanjang jalan Legian dan kawasan Dhayana Pura, Seminyak. Tapi kalo ikutan ngelihat dan dengerin music, dikategorikan dugem juga nggak ya? Kalaupun iya, catet dugem versi saya! Dugem saya nggak pakai alkohol, no smoking dan musiknya harus bagus, bukan musik tang tung tang tung gaya music dugem Dono Kasino Indro itu.

Menurut saya dugem di Bali simple dan tidak neko-neko. Maksud saya, kalau mau dugem nggak perlu repot-repot dress up dan khawatir masalah penampilan. Kebanyakan orang biasa pergi ngedugem hanya dengan tshirt, celana pendek dan sandal. In case of turis Aussie, yang muda-mudanya malah sering telanjang dada.

Dari hasil thowaf saya, saya bisa melihat perbedaan yang mencolok dari tempat-tempat dugem di dua kawasan tadi. Sepanjang jalan Legian, diisi oleh tempat-tempat dugem besar seperti Boonties dan Paddy’s yang kebanyakan diisi oleh teenager dan twenty something. Banyak juga sih yang tua tapi kelompok anak muda lah yang mendominasi. Paddy’s, salah satu Club yang dulu jadi korban ledakan bom Bali kini berdiri megah kembali. Pengunjungnya sih bejibun berdesak-desakan terutama weekend. Tapi menurut saya, so not me deh! Musiknya tang tung tang tung dan dipenuhi oleh bule Aussie. Saya Cuma masuk sebentar dan langsung keluar karena nggak tahan. Sampai-sampai restoran dekat situ yang suasananya romantis banget karena kuris-kursinya ditata di taman belakang kehilangan suasana romantisnya karena suara tang tung tang tung itu. Jadilah malam itu saya makan malam dengan diringi suara tang tung tang tung dari club tetangga restoran.

Klub-klub besar tadi letaknya dekat banget sama Poppies Lane, tempatnya anak-anak muda stay di hostel yang tersebar di sepanjang “gang” itu. Malam hari, “gang” tersebut sesak sama turis yang lalu lalang. Secara kalau malam kan tumpah ruah di daratan semua setelah seharian di pantai. Rupanya, sebelum berangkat ke klub mereka pada “pemanasan” dulu. Nentengin bir bintang hilir mudik sepanjang jalan menciptakan suasana ramai dan bergairah. Ada jyga yang pemanasannya kebablasan sehingga “dugem” nya cukup di emperan hostel dan toko-toko sepanjang Poppies Lane. Tapi menurut saya sih mereka buakn kebablasan. Mereka hanya turis-turis kere yang nggak punya duit lagi buat minum di klub. Ngomong masalah kere, saya ingat petuah teman saya yang berprofesi sebagai “beach boys” dua tahun lalu. Katanya sangat mudah buat mengidentifkasi apakah seorang turis kere atau tidak. Kalau tentengannya sudah nasi bungkus yang dijula ibu-ibu jawa di pinggir pantai, bisa dipastikan itu turis sudah kere.

Bergeser ke arah seminyak, suasananya jadi beda. Kawasan seminyak dipenuhi oleh butik-butik mewah (bagi orang lokal dan bule kere), restoran-restoran enak dan bar-bar kecil. Makhluk yang lalu lalang pun berbeda. Kalau di kuta kebanyakan teenagers dan twenty something, maka seminyak didominasi oleh generasi di atas mereka. Tampilannya juga lebih keren dan tidak crowded. Walaupun klub-klubnya lebih kecil, tapi musiknya keren-keren. Paling tidak Lady Gaga terdengar dimana-mana. Klub disini terpusat di kawasan Dyana Pura. Tapi yang nyebelin, disini sering banget ada show Lady Boy alias Waria. Later I know, ternyata memang ada beberapa Gay Bar di seputaran kawasan ini.

Rihanna Wannabe (tapi nyanyinya Celine Dion)

Suatu malam, saya sedang “thowaf” di seputaran Dyana Pura, menyusuri deretan klub-klub di sepanjang jalan tersebut. Akhirnya saya terbujuk untuk mampir di sebuah klub yang katanya ada spesial show. Mampirlah saya dan teman saya mencicipi Strawberry Juice dan Pineaple Milshake untuk teman saya. See…! Dugem saya sehat kok. Cuma minum jus doang. Setelah musik-musik keren menghentak membuat kaki saya tidak bisa dihentikan untuk sekedar bergerak berirama di lantai, suara mirip Celine Dion pun melengking dari atas stage yang lampunya menyoroti sesosok tinggi besar dengan gaun putih. Hah??!! Itu pengantin lakinya mana? Beneran gaun pengantin. Tepatnya gaun pengantin yang sering saya lihat zaman kecil dulu.

Halah!! Itu toh spesicial show nya? What so special from the lady boy lip syncs who act like Celine Dion. Caranya menggerakkan mulut, megang mic maupun gerakan tangannya sih mirip Celine Dion. Tapi bodinya mak! Super raksasa dengan perut buncit dan lengan gede yang membuat saya ngeri. Takut ditonjok pake tangan besar itu. Kayaknya gaun itu menjerit-jerit parau macam TKI yang diseterika puggungnya oleh majikan (halah lebay!). Saya ikutan tepuk tangan aja biar mereka senang. Jangan tanya tampangnya. Sumpah, kayak ondel-ondel kelebihan make up. Aduh kuli bangunan mana sih yang alih profesi jadi waria klub ini. Bukannya Waria pintar dandan ya? Tora Sudiro pas akting jadi cewek jauh lebih cantik deh. Ada juga yang tampil dengan dandanan versi Rihanna baru bangun tidur tapi gaya nyanyinya Celine Dion. Apa pun dandanannya, pasti lagu dan gayanya Celine Dion buat yang solo dan Spice Girls buat yang group.

Dek Afgan Wannabe

Dek Afgan Wannabe

Karena nggak merasa spesial sama sekali, saya berpindah ke klub sebelah yang ketika di pantai tadi barmannya promosi abis-abisan bakal punya spesial show juga. Ketika saya dan teman saya masuk, kita langsung disambut oleh lengkingan suara dek Afgan yang “dilipsinc” oleh seorang pemuda tanggung dengan setelan outfit putih dan seikat wawar merah di tangan. Karena saya duduknya dekat banget dengan stage, saya bisa mendengar suara asli “beli” yang katanya sedang meniru Afgan itu. Tentu saja Saya langsung bilang ke teman saya; I can sing much more better than him!! Nggak tahan sama suara “beli mau niru dek afgan” itu, saya berpindah ke sofa dekat pintu masuk. Nah, disitulah ternyata spesial shownya. Begitu lampu sorot di seberang sofa saya menyala, tampaklah dua pemuda ceking meliuk-liuk dengan pakaian yang sangat minim dan badan penuh busa sabun. Saya taksir umur mereka sekitar 17 an tahun. Cewek-cewek yang memenuhi klub mulai berteriak histeris mengiringi aksi dua pemuda ceking tanggung tersebut. Kata Barmannya sih, show ini namanya Gogo boys shower! Dari namanya, silahkan tebak sendiri shownya kayak gimana.

Setelah itu dilanjutkan dengan “Bad Romance” nya Lady Gaga dengan penyanyi Lip Sync waria yang ngedance horor sampai mencabut semua rambut palsunya (mau bilang wig terlalu bagus) dan melepas baju tank top seksi yang dia pakai. Tada…!! Saya seperti melihat Aming yang lagi telanjang dada dengan rambut kribo di ikat ke atas macam cowok-cowok black yang banyak berlalu lalang di kota saya. kontan seisi klub ngakak dengan aksi mbak (apa mas ya) Lady Gaga wannabe tersebut.

Massa Dugem meluber keluar sampai ke jalan

Uffhhh….ketika kantuk melanda saya melirik pergelangan tangan dan jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Cukup sudah thowaf saya malam ini. Tapi di sepanjang Dyana Pura, suasannya makin happening saja. Makin malam makin menjadi. And what ammazed me is, ternyata di luar klub sana waria-warianya makin bejibun loh. Bersaing dengan dandanan gadis-gadis modern penyuka dugem yang nggak juga beranjak pulang. Karena saya suka dandanan rambutnya, dengan sopan saya bertanya kepada seorang Waria bermake up tuueebbbal banget. Miss, may I take your picture?

tata rambutnya unik

Overall, selain waria-waria dan mas Afghan Lip syinc, musiknya keren-keren banget. Paling tidak buat selera Lady Gaga, Rihanna dan Mas Akon saya. Eits…bukan lady Gaganya loh ya yang saya suka. Saya hanya senang sama lagu-lagunya doang! Sementara di kawasan Kuta lagu-lagu Abba masih terdengar. Tahu Abba kan? Itu loh, group music cewek asal Swedia zaman baheula itu.

More

Bali Sekali Lagi; Turis Aussie dan Bir Bintang

Kalau ditanya tempat paling favorit di Indonesia, saya akan langsung menjawab Bali. Sebenarnya banyak tempat wisata yang jauh lebih indah daripada pantai-pantai di Bali. Tapi bagi saya, Bali tetap terfavorit karena hanya di Bali saya bisa menikmati pantai yang indah sekaligus entertainment yang lain. Bali adalah syurga belanja, syurganya hotel-hotel mewah maupun hotel tidak mewah namun sangat nyaman sampai kepada hostel-hostel kelas Backpacker yang hanya Rp. 40.000 per malam.

Kali ini adalah kunjungan saya yang kelima kalinya ke Bali. Oleh karena itu saya ingin menulis tentang Bali sekali lagi. Bali dimata saya, dengan paradigma saya, dan tentu saja pujian-pujian saya tentang Bali sesuai dengan selera dan ukuran “keren: menurut saya. Oke, Bali terlalu luas karena saya belum mengunjungi semua tempat di Bali. Jadi mulai sekarang Bali yang saya maksud adalah seputaran daerah pantai bagian selatan.

Hari pertama saya habiskan dengan bermain ombak dan menikmati sunset di pantai Kuta. Ditemani seorang teman dari Swiss yang setiap tahunnya selalu berlibur ke Bali, saya meresapi keindahan lembayung sore di ujung cakrawala pantai kuta. Kawasan pantai inilah salah satu penyebab yang membuat Bali nggak ada matinya. Pantai ini juga yang paling terkenal di anatara para wisatawan pengunjung Bali. Tidak heran kalau pantai ini selalu padat pengunjung. Untuk surfer pemula ataupun yang ingin belajar surfing, di sini tempatnya. Hmm…lagu lawas “Lembayung Bali” adalah Soundtrack hati saya saat ini.

Kawasan Kuta adalah base point yang bagus untuk berwisata di Bali karena tempatnya yang strategis, berada di tengah-tengah semua wisata pantai di Bali. Ditambah lagi, semua fasilitas yang dibutuhkan wisatawan tersedia lengkap di sini. Kawasan Kuta Square dengan butik-butik dan department store, café-café dan restoran serta hotel sangat memanjakan para wisatawan. Begitu juga jalan Legian yang dipenuhi deretan resto, butik dan bar-bar tempat dugem.

Turis Australia dan Bir Bintang

Bermula dari scanning setiap orang yang lewat di depan tempat kami berbaring di pasir, Christian, teman Swiss saya itu kemudian ngomong sambil menunjuk kepada segerombolan turis asing yang lewat di depan kami.

“Kamu tahu asal mereka darimana?
“Nggak. Emangnya darimana?
“Aussie. Mereka turis Australia”
“Kok tahu?

Obrolan nggak penting kami itu kemudian membawa teman saya kepada kuliah singkat beberapa karakteristik turis Australia yang menurut teman saya itu sangat menyebalkan. Penasaran kenapa teman saya itu begitu sebalnya sama turis-turis Australia, saya pun menyimak.
Nah, inilah catatan singkat saya dari kuliah teman saya tentang mengapa turis Australia itumenyebalkan:

• Speaking Out Loud! Bagi teman saya yang suka ketenangan itu, turis Ausralia sangat berisik. Menurut dia, kalau ada suara-suara keras di sekita anda di Bali, mereka adalah turis Australia. Kalau saya sih, senang-senang saja dengan keributan mereka karena saya suka menyimak pembicaraan mereka. Lagian di Bali kan kebanyakan turisnya dari Aussie. Dekat sih!

• SKSD. Mereka sangat suka menyapa semua orang-orang yang mereka temui dengan gaya akrab. “Hi…Guys!”, “Hi man!” How was your day?!” itu adalah beberapa sapaan yang biasa keluar dari mulut mereka. Bagi teman saya yang di negaranya orang terbiasa dengan “mind your own bussiness”, ini sangat mengganggu. Akan tetapi bagi saya, itu menyenangkan karena menurut saya mereka ramah. Menurut teman saya, itu bukan ramah tapi sengak.

• Telanjang dada dengan bad tatto. Turis-turis Australia memang suka banget telanjang dada dan benar kata teman saya, tato-tato mereka sama sekali nggak artistik. Kebanyakan tatto nya mencolok dan hampir mrnutupi satu bagian tubuh, bahkan seluruh badan plus kaki dan tangan.

• Kalau pakai baju, bajunya pasti kaus dengan logo bir bintang besar-besar dan mencolok. Memang benar, hanya turis Autralia lah yang begitu suka dengan baju dan celana bir bintang. Tattonya pun sering berganbar logo bir bintang. Si Christian curiga kalau turis Australia itu suka patungan beli bir bintang biar dapat kompliment kaus, celana dan tatto gratis dari bir tersebut.

• Selalu menenteng botol bir Bintang kemana-mana dan minum nggak henti-hentinya. I wonder, sebenarnya bir Bintang itu memabukkan nggak sih? Soalnya mereka kemana-kemana membawa botol itu sambil jalan normal.

Saya banyak menemukan turis-turis muda Australia tadi tinggal di Poppies Lane 1 dan 2. Kalau malam hari, ributnya minta ampun. Emperan toko-toko di “gang” itu dipenuhi oleh turis-turis dengan tatto buruk yang mabuk dengan bir Bintang di tangan sambil teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi nggak karuan. Sebagian lagi, menghabiskan malam sampai drop di klub dan bar yang tersebar sepanjang jalan Legian maupun daerah seminyak.

Apakah lima karakteristik yang diberikan oleh teman saya itu terbukti benar? Yup, saya banyak menemukan kecocokannya. Seperti suatu malam ketika saya bersantai di kolam renang hotel, saya dikagetkan oleh seorang turis bertatto buruk dengan bir Bintang di tangan. Setelah menyapa akrab, dia menawarkan bir bintangnya kepada saya dan Christian.

“Sorry man, we don’t drink! Kata saya dan Chris aklamatif.
Beberapa menit saya dibuat cengo karena saya harus menimak betul apa yang dia omongkan. Kayaknya sih dia pakai bahasa Inggris, tapi kok yang kedengaran hanya “blub, blub, blub”. Bicaranya nggak nyambung pula.

Halah, setelah saya perhatikan, ternyata dia mabuk berat. Iya iayalah, pasti mabuk karena dari tadi saya lihat dia hanya duduk di balkon sambil memegang erat si Bir Bintang. Dan dia jauh-jauh nyamperin kita hanya buat nyapa-nyapa tadi. Hmm….benar-benar turis yang ramah!

Next Episod: Saya akan menulis tentang tempat-tempat dugem di seputaran Kuta dan Seminyak beserta kekhasannya masing-masing!

Road to Pulau Sempu Part Two; Segara Anakan, The So Called Laguna

segara anakan

Terbangun karena suara deburan ombak membuatku tersadar akan tempatku tertidur. Tidur diatas pasir tanpa tenda semalaman cukup nyaman walaupun dingin cukup menusuk membuatku enggan untuk menyingkirkan sleeping bag yang membungkus sekujur tubuh. Dalam keremangan fajar, Segara Anakan mulai terlihat jelas.

DSC06073
Siberat nggak rela kalo nggak nambah jatah tidur.

Shalat subuh berjama’ah di atas pasir di tepi Segara anakan terasa sangat berbeda. Khusyuk menyatu dengan deburan ombak dan nyanyian burung pagi. Tak sabar lagi rasanya ingin segera menceburkan diri ke dalam Laguna yang sangat bening itu. Tapi kayaknya asyik kalau melihat-lihat sekeliling dan mengambil beberapa gambar.

diatas tebing karang yang memisahkan sisi timur kawasan segara anakan dengan Laut Selatan
Diatas tebing karang yang memisahkan sisi timur Segara anakan dengan Laut Selatan
(pakai baju hitam dipantai;jangan ditir!! Bakalan panas banget tuh)

DSC06070
dengan Background Segara Anakan

Dalam siraman mentari pagi Segara Anakan terlihat begitu memukau. Dikelilingi oleh tebing-tebing karang yang tinggi dan tertutup rapat oleh pohon membuatnya terlihat seperti danau di tengah hutan ketimbang Laguna di tengah Pulau di laut Selatan. Yang enyadarkan kalau ini di tengah Laut selatan adalah, deburan ombak yang menggema menghempas di balik tebing-tebing karang itu. Kalau pernah nonton The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio, anda akan merasakan De Javu karena Segara anakan mirip banget sama Laguna di Thailand yang menjadi setting film itu. Nah kan, ternyata Indonesia pun punya Laguna yang tak kalah indahnya. Nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri.

The Lost Boys
Air Laguna yang hangat diterpa mentari pagi. Nggak renang? Mana tahan!!

Air di Segara anakan ini dipasok dari Laut Selatan oleh ombak yang menerjang masuk lewat lubang karang di sisi barat Laguna. Kata Laguna sendiri berasal dari bahasa Inggris,  Lagoon yang berarti sebuah danau air asin yang dipisahkan oleh tebing karang atau hamparan pasir dari laut lepas. Nah, Segara anakan ini dipisahkan oleh karang tinggi dari laut lepas sehingga lautnya tidak kelihatan.

segara anakan 4
Air mengalir masuk ketika ombak menghempas lubang karang.
Melompat dari atas tebing karang tinggi ketika air itu menerjan masuk merupakan tantangan yang mengasyikkan.

DSC06102

Beruntung kami sempat membeli mata kail dan benang di Sendang biru kemarin. Memancing sambil melihat ikan karang berwarna-warni itu bergerombol dan berebutan memakan umpan yang dipasang merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Kalau mau dapat ikan yang lebih besar, bawalah kail dan umpan yang memadai. Dahulu sebelum tempat ini dikunjungi sesering sekarang, Segara anakan merupakan tempat tinggal bagi berbagai jenis terumbu karang dan habitat yang bergantung padanya. Tapi sekarang keindahan itu sudah terkikis oleh pemboman liar yang dilakukan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali.
DSC06111
Hasil mancing sambil renang

Sebelum pulang kami sempat membersihkan pantai yang mulai kotor oleh sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali kan, tempat seindah ini direduksi pesonanya oleh sampah. Andaikan semua punya kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, bisa dipastikan masih bisa disaksikan keindahan yang sama berpuluh tahun ke depan. Yang pasti Law of Attraction itu tetap berlaku. Ketika hal negatif yang kita sebarkan, hal negative pula yang akan didapatkan.

***

Travelling Guidance:
Jarak kota malang dengan Pantai Sendangbiru sekitar 71 km. Sendang biru bisa dicapai dengan menumpang angkot AG dari terminal Arjosari/LG&GL dari terminal Landungsari (pokoknya semua angkot yang berletter G akan sampai ke Terminal Gadang) dengan tarif Rp. 2. 300 per orang. Dari terminal Gadang, naik Bus jurusan Turen dengan tarif hanya Rp. 4. 000 per kepala. Perjalanan dari semua keberangkatan tadi ke Turen memakan waktu sekitar 2 jam. Baru kemudian dari Turen menempuh jarak 43 km ke sendang biru dengan angkot yang tarifnya Rp. 15. 000 per kepala. Jalan yang ditempuh berkelok-kelok dan anaik turun gunung. So, prepare yourself.
Bawa air minum yang cukup karena di Pulau Sempu air bersih agak susah didapat. Jaraknya jauh dari Laguna Segara Anakan dan rasanya pun payau. Yang pasti perbekalan dan camilan harus memadai. Saying sekali kalau harus bersenang-senang dengan perut keroncongan.
Pada waktu kami berangkat, ongkos penyeberangan dengan perahu dari Sendang Biru ke Pulau Sempu Rp. 100. 000 dan sudah termasuk fasilitas penjemputan ketika balik dari Pulau.kalau mau lebih hemat, bergabunglah bersama rombongan lain karena tarifnya dihitung per perahu bukan per kepala. Satu perahu bisa membawa sampai dengan 15 penumpang.
Usahakan menyeberang pada siang hari agar tidak kemalaman dalam perjalanan. Kecuali anda suka tantangan berjalan dalam gelap melewati hutan rimba dengan jalan setapak yang becek dan licin pastinya. Normalnya hanya butuh waktu satu jam untuk mencapai Segara Anakan.
Ok, selamat berpetualang and be wise to the nature….!!

Previous Older Entries