Panduan Hidup di Kota Malang Buat Mahasiswa Baru; Welcome…!

Malang night

Memasuki tahun ajaran baru seperti ini jumah penduduk Malang naik drastic berlipat-lipat. Bukan karena masyarakatnya hobi melahirkan, akan tetapi serbuan mahasiswa baru yang ingin menimba ilmu di Kota berhawa sejuk ini puluhan ribu jumlahnya. Mereka datang dari berbagai daerah di pulau jawa maupun luar jawa. Malang sudah lama menjadi kota pilihan tempat studi karena memang di kota ini terdapat pulhan perguruan tinggi termasuk di dalamnya 4 perguruan tinggi negeri; UIN Maulana Malik Ibrahim , Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan Politeknik Negeri Malang. Kampus swasta seperti UMM dan Ma Chung University juga tak kalah kerennya dengan kampus negeri. Malahan dalam beberapa hal mereka lebih unggul.

Malang menjadi pilihan tempat studi karena suasananya yang memang sangat kondusif untuk belajar. Tak heran ia menyadang julukan kota pelajar. Warnet-warnet terdapat hampir di tiap gang dan kompleks ruko. Bagi yang membawa lapto, akses internet terdapat dimana-mana. Mulai dari hotspot free di kampus-kampus sampai kafe-kafe yang meyediakan akses internet via wifi gratis. Bahkan warung makan kecil di mulut gang pun menyediakan wifi gratis. Dan jangan lupa,kota Malang mempunyai sebuah perpustakaan umum yang besar dengan koleksi buku yang super lengkap dan up to date.

kota malang

Selain fasilitas tadi, biaya hidup di kota ini cukup terjangkau untuk ukuran mahasiswa. Mau cari kos dengan budget 100 ribu per bulan? Ada! Makan enak dengan modal 3 rebu? Bisa!! Dengan modal 10 rebu, kamu sudah bisa menonton film kesayangan kamu di XI.

Kalau butuh refreshing akhir pekan setelah seminggu berjibaku dengan kuliah, tempat rekreasi bertebaran dimmana-mana karena Malang juga menjadi tempat berakhir pekan buat masyarakat Jawa Timur. Dari pemandian air panas sampai dengan wahana wisata modern tersedia dengan tiket masuk yang sangat-sangat murah.

tugu kota malang

Bagi kamu yang akan memasuki perguruan tinggi tahun ini, ada beberapa hal yang harus kamu siapkan. Kamu harus menyiapkan jaket sebagai salah satu fashion item yang wajib. Bulan Juni sampai dengan September adalah masa dimana suhu di Kota malang berada pada titik terendah. Apalagi kalau malam hari. Kalau mau hidup nyaman, siapkan selimut tebal dan jaket. Beli di malang juga bisa kalau mau lebih praktis. Distro-distro dengan koleksi fashion yang up to date bertebaran dengan jarak tidak lebih dari 100 meter. Mulai dari yang high class sampai yang murah meriah dengan koleksi sejuta umat.

Buat keperluan kuliah juga mudah di dapat. Took-toko Buku besar maupun kecil bertebaran. Dan hampir sepanjang tahun, ada saja event book fair tempat mendapatkan buku dngan harga obral. Selain itu, terdapat satu kompleks khusus yang menjual buku-buku second hand. Toko Buku diskon Toga Mas juga terdapat di kota ini.

Nah, sekarang kamu tinggal packing dan segera datang ke Kota Malang. Lots of fun awaits…!!

Road to Pulau Sempu Part Two; Segara Anak, The So Called Laguna

segara anakan

Terbangun karena suara deburan ombak membuatku tersadar akan tempatku tertidur. Tidur diatas pasir tanpa tenda semalaman cukup nyaman walaupun dingin cukup menusuk membuatku enggan untuk menyingkirkan sleeping bag yang membungkus sekujur tubuh. Dalam keremangan fajar, Segara Anakan mulai terlihat jelas.

DSC06073
Siberat nggak rela kalo nggak nambah jatah tidur.

Shalat subuh berjama’ah di atas pasir di tepi Segara anakan terasa sangat berbeda. Khusyuk menyatu dengan deburan ombak dan nyanyian burung pagi. Tak sabar lagi rasanya ingin segera menceburkan diri ke dalam Laguna yang sangat bening itu. Tapi kayaknya asyik kalau melihat-lihat sekeliling dan mengambil beberapa gambar.

diatas tebing karang yang memisahkan sisi timur kawasan segara anakan dengan Laut Selatan
Diatas tebing karang yang memisahkan sisi timur Segara anakan dengan Laut Selatan
(pakai baju hitam dipantai;jangan ditir!! Bakalan panas banget tuh)

DSC06070
dengan Background Segara Anakan

Dalam siraman mentari pagi Segara Anakan terlihat begitu memukau. Dikelilingi oleh tebing-tebing karang yang tinggi dan tertutup rapat oleh pohon membuatnya terlihat seperti danau di tengah hutan ketimbang Laguna di tengah Pulau di laut Selatan. Yang enyadarkan kalau ini di tengah Laut selatan adalah, deburan ombak yang menggema menghempas di balik tebing-tebing karang itu. Kalau pernah nonton The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio, anda akan merasakan De Javu karena Segara anakan mirip banget sama Laguna di Thailand yang menjadi setting film itu. Nah kan, ternyata Indonesia pun punya Laguna yang tak kalah indahnya. Nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri.

The Lost Boys
Air Laguna yang hangat diterpa mentari pagi. Nggak renang? Mana tahan!!

Air di Segara anakan ini dipasok dari Laut Selatan oleh ombak yang menerjang masuk lewat lubang karang di sisi barat Laguna. Kata Laguna sendiri berasal dari bahasa Inggris,  Lagoon yang berarti sebuah danau air asin yang dipisahkan oleh tebing karang atau hamparan pasir dari laut lepas. Nah, Segara anakan ini dipisahkan oleh karang tinggi dari laut lepas sehingga lautnya tidak kelihatan.

segara anakan 4
Air mengalir masuk ketika ombak menghempas lubang karang.
Melompat dari atas tebing karang tinggi ketika air itu menerjan masuk merupakan tantangan yang mengasyikkan.

DSC06102

Beruntung kami sempat membeli mata kail dan benang di Sendang biru kemarin. Memancing sambil melihat ikan karang berwarna-warni itu bergerombol dan berebutan memakan umpan yang dipasang merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Kalau mau dapat ikan yang lebih besar, bawalah kail dan umpan yang memadai. Dahulu sebelum tempat ini dikunjungi sesering sekarang, Segara anakan merupakan tempat tinggal bagi berbagai jenis terumbu karang dan habitat yang bergantung padanya. Tapi sekarang keindahan itu sudah terkikis oleh pemboman liar yang dilakukan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali.
DSC06111
Hasil mancing sambil renang

Sebelum pulang kami sempat membersihkan pantai yang mulai kotor oleh sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sayang sekali kan, tempat seindah ini direduksi pesonanya oleh sampah. Andaikan semua punya kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, bisa dipastikan masih bisa disaksikan keindahan yang sama berpuluh tahun ke depan. Yang pasti Law of Attraction itu tetap berlaku. Ketika hal negatif yang kita sebarkan, hal negative pula yang akan didapatkan.

***

Travelling Guidance:
Jarak kota malang dengan Pantai Sendangbiru sekitar 71 km. Sendang biru bisa dicapai dengan menumpang angkot AG dari terminal Arjosari/LG&GL dari terminal Landungsari (pokoknya semua angkot yang berletter G akan sampai ke Terminal Gadang) dengan tarif Rp. 2. 300 per orang. Dari terminal Gadang, naik Bus jurusan Turen dengan tarif hanya Rp. 4. 000 per kepala. Perjalanan dari semua keberangkatan tadi ke Turen memakan waktu sekitar 2 jam. Baru kemudian dari Turen menempuh jarak 43 km ke sendang biru dengan angkot yang tarifnya Rp. 15. 000 per kepala. Jalan yang ditempuh berkelok-kelok dan anaik turun gunung. So, prepare yourself.
Bawa air minum yang cukup karena di Pulau Sempu air bersih agak susah didapat. Jaraknya jauh dari Laguna Segara Anakan dan rasanya pun payau. Yang pasti perbekalan dan camilan harus memadai. Saying sekali kalau harus bersenang-senang dengan perut keroncongan.
Pada waktu kami berangkat, ongkos penyeberangan dengan perahu dari Sendang Biru ke Pulau Sempu Rp. 100. 000 dan sudah termasuk fasilitas penjemputan ketika balik dari Pulau.kalau mau lebih hemat, bergabunglah bersama rombongan lain karena tarifnya dihitung per perahu bukan per kepala. Satu perahu bisa membawa sampai dengan 15 penumpang.
Usahakan menyeberang pada siang hari agar tidak kemalaman dalam perjalanan. Kecuali anda suka tantangan berjalan dalam gelap melewati hutan rimba dengan jalan setapak yang becek dan licin pastinya. Normalnya hanya butuh waktu satu jam untuk mencapai Segara Anakan.
Ok, selamat berpetualang and be wise to the nature….!!

Road to Pulau Sempu Part One


Terik mentari pagi itu begitu menyengat walaupun hari baru beranjak dari jam Sembilan pagi. Memang akhir-akhir ini kota Malang mulai terasa panas. Cuaca panas dan demam yang yang melemahkan tenaga dan konsentarasiku terkalahkan oleh nafsu travelling yang sudah tak tertahankan lagi. Padahal kemarin aku matia-matian menolak untuk ikut. Tapi begitu anak-anak packing tadi pagi, aku nggak tahan!! Aku harus ikut ke Pulau Sempu!!

***

Perjalanan panjang dengan berganti angkot dan bus sampai tiga kali yang memakan waktu sekitar lima jam terasa melelahkan. Apalagi dengan medan jalan yang berkelok-kelok naik turun gnung daerah Malang Selatan yang memang berbukit-bukit. Tapi kelelahan itu terbayar ketika angkutan yang kami tumpangi berhenti di bibir pantai Sendang Biru. Benar-benar biru. Sebuah teluk sempit di laut selatan denganlatar belakang pulau kecil yang ditutupi vegetasi hutan tropis yang kelihatannya masih perawan tersaji di depan mata ketika memandang dari bibir pantai. Riak ombak kecil yang terbawa dari laut selatan yang trhaampar di mulut teluk sesekali menggoyang perahu kecil warna-warni bertebaran menghiasi teluk. Akhir pecan begini, pengunjung memang sangat ramai. Perahu-perahu hampir selalu penuh oleh pengunjung yang ingin menyeberang atau sekedar berlayar mengitari pulau sambil singgah di pantai-pantai kecil di pulau Sempu. Para penggemar olahraga dayung berseliweran diantara perahu-perahu motor yang bolak-baik mengantar wisatawan seolah berlomba mewarnai teluk biru yang tenang itu.


Sesaat kami terpaku di tepi pantai sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Sempu yang menajdi tujuan Adventur kami kali ini. Iya, daya tarik utama bagi petualang memang bukanlah pantai Sendang Biru melainkan Pulau Sempu yang ada ditengahnya dengan hutan yang masih menyimpan seribu misteri dan keindahan Laguna (Lagoon) Segara anakan. Kabarnya binatang-binatang liar dan ular phyton seukuran anaconda masih masih menjadikan pulau itu sebagi hunian mereka. Setidaknya seperti itulah yang dijelaskan oleh Pak Hendro, pencinta alam yang usianya tidak muda lagi yang punya perhatian khusus terhadap kelestarian cagar konservasi Pulau Sempu. Jarak Jakarta-Malang tidak menyurutkannya untuk rutin mengunjungi Pulau Sempu. Beliau begitu cinta sama Pulau eksotis degan hutan perawan itu. Apalah artinya jarak ketika cinta sudah tertambat?


Perahu merapat ke Pantai Semut di pulau ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 5. Medan pertama yang kami lewati adalah hutan mangrove yang becek. Semakin ke tengah, vegetasinya berganti dengan pohon-pohon besar khas hutan tropis yang tumbuh rapat. Jalan setapak yang dilalui semakin menantang. Medan menanjak dan licin ditambah dengan kegelapan hutan cukup menyulitkan langkah. Beban di punggung jadi berlipat beratnya, apalagi kami membawa air bersih untuk memasak selain masing-masing air minum 3,5 liter di back pack. Disarankan untuk memakai sepatu dan celana lapangan kalau anda berniat mengunjungi pulau Sempu agar langkah anda mantap di tengah medan yang benar-benar bechek. Apalagi nggak ada ojyek. Cyapek kan?

DSC06061

Suara nyayian serangga hutan seolah orchestra alam yang tercipta menjadi soundtrack perjalanan kami sore itu. Sesekali diselingi bunyi berdebum badan beradu dengan tanah lembab yang dihasilkan oleh teman kami yan badannya memang extra itu. Dia sampai jatuh berkali-kali bergiliran dengan Ridho yang membawa tambahan beban 13 liter air di punggungnya. Keadaan ini membuat kami sebentar-sebentar berhenti. Sekarang mata hanya bisa melihat selangkah kedepan. Sinar mentari yang tadi masih samar-samar menembus pepohonan di awal perjalanan kini sudah tidak mampu lagi menembus rapatnya pepohonan. Hitam pekat kegelapan di depan mata meciptakan labirin yang membuat seolah-olah perjalanan malam itu tak berujung. Iya, tidak ada bayangan di benakku seperti apa tujuan akhir perjalanan kami itu karena aku tidak sempat untuk mengeceknya di internet. Bambang yang menjadi penunjuk jalan hanya memberi petunjuk “sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai” ketika teman-teman menanyakan ujung perjalanan kami. Dalam satu sesi istrahat (hampir setiap sepuluh menit setelah melewati 1 jam pertama, Siberat minta istirahat), kami mendengarkan murottal yang diputar Siberat dari Handphone canggihnya. Subhanllah, di tengah kegelapan dan kesunyian hutan itu tidak ada satu suarapun kecuali lantunan Murottal diiringi symphony hutan. Cess….hati mejadi begitu tenang. Hal yang biasa menjadi sangat istimewa ketika bertemu moment yang luar biasa. Beberapa saat aku memejamkan mata merasakan kegelapan dan lantunan yang begitu meyejukkan itu.

Suara gemuruh ombak mulai kedengaran. Tapi tidak terlihat apa-apa selain hitam pekat. Kami semakin girang, ketika suara-suara teriakan dan gitar bersahutan dengan suara hempasan ombak. Dengan bantuan cahaya senter kami mulai mencari tahu. Dari celah dedaunan,tampak warna keperakan air yang tertimpa cahaya bintang. Ternyata kami sudah berjalan di atas tebing, dibawah kaki kami terhampar Segara Anakan yang menjadi ujung perjalanan kami malam itu.

Sampai di hamparan pasir yang lembut, kelelahan itu rasanya sirna. Di tempat itu sudah ada beberapa tenda para campers yang sudah duluan sampai. Setelah menghamparkan alas tenda, masing masing menjatuhkan badan berbaring dalam diam menghadap ke tengah Segara Anakan yang memantulkan kilau cahaya bintang di langit yang cukup cerah malam itu. Kata tak mampu lagi menggambarkan keindahan suasana malam itu. Biarkan diam menanamkannya ke otak untuk meresapi keindahan itu.

Setelah merasa cukup larut dalam keindahan malam di tepi Segara anakan, aku segera mnyiapkan makan malam buat kita semua. perpaduan letih, kegembiraan dan keidahan segara anakan menjadikan mie instan yang menjadi santapan kami malam itu terasa sangat nikmat. Siberat sudah kembali On setelah redup karena perjalan tadi. Masing-masing segelas Cappuccino tak mampu menahan mata untuk terbuka lebih lama. Semua menyusup ke sleeping bag masing-masing, tidur beratapkan langit. Tidur diiringi deburan ombak laut selatan yang mengemuruh di balik tebing karang yang melindungii Segara Anakan dari amukan laut selatan. Tenda dome yang kami bawa teronggok sia-sia. Biarkan diri menyatu dengan alam tanpa ada pembatas.

Sayup-sayup otakku bersenandung sebelum akhirnya terlelap.

Derai berderai

angin ombak di pantai

Bergema badai selatan

tinggi meninggi

gelombang mendatang

merenggut kasih seorang

musnah harapan

ditelan gelombang

aduhai alam lindungilah diri hamba

badai selatan

Berikanlah tawaran

harapan cinta bahagia

(Agus Wisman -Badai Selatan- Ost Soe Hoek Gie)

To be continued….


Nenek Pemulung yang Ceria

Banyak hal yang mengugah yang menarik perhatianku beberapa hari ini. Salah satunya adalah seorang nenek tua yang berprofesi sebagai pemulung yang setiap pagi lewat di depan tempat kerjaku. Tidak seperti pemulung lainnya, Ia sealu berpakaian rapi. Berkebaya rapid an kain batik yang terpasang rapi pula. Pilihan warnanya “matching” pula. Atau mungkin bukan pilihan tapi outfit kerja satu-satunya yang dia punya itu kebetulan matching. Karena memang setiap hari Ia selalu muncul dengan pakaian itu-itu saja tapi tetap rapi seperti kemarin-kemarin. Menurut taksiranku, umurnya lebih kurang 60 tahun. Tapi masih dengan perawakan tegap dan pancaran wajah yang penuh semangat. Pancaran yang menulariku untuk ikut bersemangat ketika memulai bekerja setiap paginya.

Setiap pagi Ia lewat di depan tempat kerjaku dan menengok isi tong sampah yang terletak di sudut teras. Kalau-kalau ada botol kosong atau barang bekas yang bisa diambil untuk menambah isi karungnya.

Biasanya aku akan keluar dengan membawa beberapa boto l plastic kosong yang sengaja kukumpulkan untuknya. Dia pun akan menerimanya dengan wajah sumringah dan ucapan terima kasih yang sangat menyejukkan hati. Kata-katanya sangat sopan dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya yang sudah keriput.

Yah, wajah itu. Wajah yang ceria dan menyejukkan. Keceriaan yang kadang dibaginya dengan bercanda dengan Vincent, balita anak koko tetangga toko sebelah. Tidak tampak kesusahan menghiasi wajah tuanya. Hal yang sangat kontras dengan manusia pemulung lainnya. Bahkan kontras denganku denganku yang sering memasang wajah suntuk kalau bad mood pagi-pagi sudah menguasaiku. Padahal berapa banyak buku yang sudah kubaca tentang betapa senyum itu menyehatkan. Sehat buat jiwa, raga dan juga lingkungan.

Bayangkan kalau semua orang begitu mudah tersenyum dan berbagi keceriaan dengan sekitar. Akan semakin berkurang angka orang stress, akan tidak banyak lagi terdengar berita perkelahian dan kerusuhan karena nafsu amarah teredam oleh senyum tulus yang terpancar. Lingkungan akan aman dari keserakahan karena manusia yang berhati damai akan menyebarkan kedamaian dengan menjaga lingkungannya. Dan tentu saja gossip-gossip perceraian selebriti ini dan selibriti inu, percekcikan artis sana dengan artis situ nggak akan menjadi hidangan yang tersaji rutin di layar kaca tiga kali sehari. Mungkin gossip itu akan berisi seperti ini

Sahabat Cappuccino, senyum saipul jamil yang menyejukkan itu ternyata meluluhkan Dewi Persik Sang mantan istri untuk tidak liar beraksi panggung. DP yang selama ini terkenal dengan goyangan gergajinya kini tampil di panggung dengan sangat anggun dengan gaun panjang dan kerudunngnya”

Ah, nenek pemulung. Di usia senjanya Ia adalah seorang pekerja keras yang penuh semangat. Pasti ketika mudanya Ia adalah gadis ceria yang sangat enerjik .

Aku jadi miris melihat kenyataan begitu banyak orang-orang yang lebih muda dengan badan tegap dan juga gemuk-gemuk setiap hari menadahkan tangan dari pintu ke pintu. FYI, dari hasil ngobrol dengan beberapa orang pengemis muda yang biasa mampir di tempat kerjaku aku melongo ketika tahu berapa penghasilan mereka hari itu. Dari mengemis setengah hari saja, mereka bias mengantongi uang sampai 70 ribu. Jauh lebih banyak dari penghasilanku. Lah, kalau sehari penuh?

Nenek pemulung yang penuh inspirasi. Mau nggak ya, dia kuajak nongkrong di Coffee Time untuk sekedar berbagi cerita mengambil hikmah darinya. Ngobrol berdua saja. Apa yang membuatnya begitu bersinar. Sinar yang nggak ditangkap oleh semua orang.

 

Istana Dieng, March 11st 09

 

 

Airport Story

Hujan deras megguyur sepanjang perjalananku sore siang itu. Bus AC Malang-Surabaya yang aku tumpangi sore itu cukup nyaman. Kenyamanan itu membawaku dalam diam yang rasanya sangat nikmat. Setelah berbasa-basi dengan Om-Om yang duduk di sebelahku aku langsung mengeluarkan The Jakarta Post weekender edisi Desember yang kubawa di back pack laptopku. Di luar kebiasaanku, aku tidak membuka percakapan dengan penumpang disampingku. Sepertinya dia pun tidak berniat untuk bercakap-cakap. Dia larut dengan Koran yang dibelinya di penjaja Koran tadi. Kuedarkan pandangan ke penjuru bus. Semuanya tampak terdiam. Rupanya hujan memang dihadirkan untuk member kesempatan merenung. Paling tidak, bisa bermain-main dengan pikiran dan memperhatikan sekeliling.

Aku selalu menikmati perjalanan. I do love travelling, trip or whatever you named it. Oleh karena itu untuk jarak seperti ini, aku lebih suka naik bus daripada memacu si Karismaku yang tidak berkarisma lagi itu. Begitu banyak yang bias kita nikmati sepanjang perjalanan. Menikmati suasana senyap yang syahdu, tetes-tetes hujan yang menutupi kaca mobil. Persawahan yang menghijau sepanjang perjalanan rasanya cukup untuk melepas kepenatan dari rutinitas dalam kota yang itu-itu saja. Sering aku tersenyum sendiri ketika mendengar celotehan anak kecil yang biasanya sepanjang jalan suka bertanya ini itu kepada ibu atau ayahnya. Mendengarkan mereka bernyanyi dengan suara cadel tidak bias dibandingkan dengan Il divo. Kegembiraan yang polos.

Sore itu yang duduk di kursi di belakangku adalah seorang ibu dengan anak perempuan kecil 4 tahunan. Setelah hamper separuh pejalanan dia bertanya bermacam-macam hal kepada ibunya yang menjawab semuanya dengan sabar, dia mulai bernyanyi. Mula-mula yang dinyanyikannya adalah sepotong syair dari group band Hello, “Ular berbisa”. Lucu sekali, dengan lidahnya yang cadel lirik yang ada ular berbisannya diulang-ulang sampe aku yang mendengarnya hfal sendiri. Hmm…apa yang dipikirkannya ya? Pasti dalam otaknya, lagu itu sedang bercerita tentang ular berbisa seperti yang dilihatnya di kebun binatang. Kemudian ku dengar dia bertanya lagi kepada ibunya.

“Ma, Mama bisa nggak nyanyi kayak adek tadi?”

“nyanyi yang mana Dek”?

“itu loh Ma, ulal belbisa”

“nggak bisa dek”
“wah, mama. Adek aja yang udah kecil bisa. Mama kalu udah kecil kayak adek bisa ya?”

Aku tersenyum semakin lebar mendengarnya. Kemudian dia mulai bernyanyi lagi. Lagunya “Balonku Lima” dan “Pelangi” tapi liriknya kadang ngawur kemana-mana. Kemudian sebentar-sebentar dia berteriak dengan riang agak dinyanyikan

“sudah sampai, sudah sampai…!

Mendengar nyanyiannya aku tersadar untuk berkemas. Sudah hampir sampai Bungurasih rupanya. Hmm…jadi teringat masa kecil.

Begitu bus berhenti dan penumpang tergesa dalam hujan berpencar sesuai dengan tujuannya masing-masing, aku melangkah tergesa menuju ke Bus DAMRI yang bertuliskan “airport bus” yang terparkir tak jauh dari tempat kedatabgan bus antar kota. Rupanya sengaja dibua tempatnya berdekatan supaya penumpang yang ingin ke air port bisa langsung naik ke bus milik BUMN itu begitu turun dari bus yang membawa mereka dari kotanya masing-masing.

Sepuluh menit kemudian, bus bergerak ke luar terminal menembus jalan kota yang digenangi air hujan. Kali ini nggak ada anak kecil yang memberikan hiburan Cuma-Cuma dengan suara cadelnya. Aku memandang ke luar jendela menembus rintik hujan yang jatuh seperti tombak kecil-kecil yang menerpa bumi. Surabaya semakin hijau sekarang. Pemandangan suasana kota di saat hujan sangat indah. Suasananya syahdu dan tenang sekali.

Ketika memasuki kawasan bandara yang sebenarnya terletak di wilayah kabupaten Sidoarjo itu, Handphoneku bergetar. Telepon dari bibi Nur. Dia sudah landing katanya. Aku bilang 10 menit lagi aku sampai Bandara. Kulirik jam di handphone. Hari sudah gelap walaupun baru pukul 04.15. Beberapa hari ini memang hujan terus mengguyuur sepanjang hari sehingga hari lebih cepat gelap dari biasanya.

Begitu sampai di Domestik Arrival, aku bergegas turun dan langsung menuju pintu keluar penumpang. Kemudian ku sms Bibi Nur menanyakan posisinya. Dia masih mengecek bagasi rupanya. Tak lama kemudian aku melihat sosok my lovely aunty bergegas sambil celingak-celinguk mencari penjemputnya. Aku sengaja berjalan sejajar di sampingnya sambil memangil-mangil sambil tetap memandang lurus ke depan. Hehe…dia belum sadar rupanya. Sampai ku panggil agak keras sambil semakin mepet sejajar denganya. Dia kaget dan setengah berteriak memanggil namaku. Aku tertawa sambil mencium tangannya. Rupanya dia pangling karena rambutku sudah kucukur botak.

Karena si Bibi katanya lapar sekali, aku langsung mengajaknya ke restoran di depan tempat check in. Hujan-hujan begini, paling nikmat makan soto. Akhirnya, semangkuk soto dan semangkuk sop buntut terhidang di meja. Sotonya sih biasa-biasa saja, lebih enak soto langgananku dekat kampus malah. Tapi sop buntutnya yummy banget. Perut kenyang kita ngobrol-ngobrol. Telfon sana-telfon sini.

Beranjak ke kursi di ruang tunggu, obrolan dilanjutkan lagi sambil menikmati camilan dan minuman. Hmm…brownies yang didapat setelah sebel banget pas memesannya ternyata yummy banget. Tapi aku tetap kesal, kalau mengingat pembicaran di elfon ketika memesanya tadi pagi.

Airport adalah salah satu tempat fafvoritku. Apalagi kalau crowded. Senang rasanya berada di tengah orang-orang yang rata-rata well dressed dengan aura-aura bersemangat. Senang memperhatikan orang-orang yang lalu lalang sambil sekali-sekali mengomentari tingkah atau pakaiannya. Berada di airport menambah stok semangatku. Jadi bersemangat untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsi biar bisa berpergian dengan bebas seperti mereka. Spirit makin membuncah untuk bekerja lebih baik dan menabung lebih banyak untuk bisa bepergian ke tempat-tempat yang aku suka. Jadi semakin terpacu untuk belajar lebih rajin biar dapat scholarship untuk terbang ke luar negeri, mean aku bisa lebih sering berada di airport-airport bagus. Senang rasanya berjalan lurus segaris di tengah orang-orang yang lalu lalang. Kapan lagi merasakan model feeling dengan penonton orang segini banyak. Kepala tegak dengan senyum tipis terpasang, rasanya berjalan di atas catwalk raksasa. Atau langkah-langkah panjang dengan cool mode. Berasa sedang show koleksi musim dinginnya Dolce&Gabbana.
Hmm…you have to try it.

Duduk memperhatikan orang yang lalu lalang adalah sebuah kenikmatan tersendiri.  Tampak di ujung sana seorang pria muda dengan outfit blue jeans, dan kemeja lengan panjang biru muda dan sepatu kulit warna cokelat yang sedang ngetrend membungkus kakinya. Lelaki itu menatap wanita di depannya sambil tangannya tetap menggenggam erat tangan wanita itu. pandangan mata sang lelaki mengatakan semuanya, membuat si wanita tegar melepas sang lelaki yang sepertinya adalah suaminya. tatapan yang menguatkan cinta mereka yang sesaat akan terpisah jarak. Hmm…sebuah fragmen cinta yang menggetarkan.

Si bibi terlalu takut ketinggalan pesawat sehingga di buru-buru check in begitu jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Padahal pesawatnya take off

jam 7 nanti. Aduh, please deh, hari gini. Pasti juga diumumkan kan kalau sudah harus siap-siap. Kalu belum muncul juga, pasti namanya bakal di pangigil kan. Terdengar seantero airport lagi. Hitung-hitung promosi nama. Siapa tahu ada laki-laki yang mendengar nama yang mengalun indah itu, kemudian buru-buru dating mengejar dan say I love you. Would you marry me? Secara masih jobmblo (say thanks aunty, I promote you)
Igh…emang pake susuk apa itu nama. Tapi who knows?

Kembali aku masuk ke Airport bus yang akan membawaku kembali ke Bungurasih. Sebenanya masih pengen main dulu di Surabaya. Tapi malam ini aku harus Liqo and I don’t wanna miss it. I have to accomplish my spirit, meeting my lovely Mr and my Brothers too. Kukeluarkan mushafku dan menekuri baris-demi baris dalam kesyahduan airport bus. Hujan masih mengguyur di luar sana.

Mimpiku Masih Tertinggal Bersama Deburan Ombak

Kunaiki tangga bus dengan hati berat menggelayut. Aku merasa meninggalkan syurga. Langkahku masih melayang rasanya. Kalaulah bisa kuulang waktu tak akan kusatukan diriku dengan pantai dan kehidupan Kuta yang telah mencuri hatiku. Karena berat untuk mencabut semuanya dari hatiku. Padahal aku tahu penyakitku dari dulu, mudah jatuh cinta dan terlalu maen hati. Kusuntikkan bergalon-galon rasionalisme ke dalam otakku agar mampu memerangi hatiku. Aku harus pergi ke duniaku sendiri,ke kehidupanku yang real. Isn’t kuta is real? Yup but too many unreality fact I found. Kucoba mengalihkan pikiranku dengan ngobrol dengan kenalan yang kudapat di terminal tapi slide empat hariku di Kuta selalu datang dan pergi. Deli express kafe dengan hot spotnya yang selalu dipenuhi oleh turis local dan manca, Poppies Lane yang dipenuhi turis, Kuta square, dentuman techo dari Beach club, Mc D’s Ice Creams, Samudera Café, where I had dinner with Christ, garis pantai yang landai dan para surfer yang menantang obak. My Jogja and Bali mate. Hhhuahhh….!!Anybody tell me how to erase it, to recycle it. Kalaulah ada penghapus memori nomor satu di dunia akan kubayar ia berapapun harganya. Alunan lagu-lagu mellow menyusup hatiku membuatnya tambah bergerimis. Aku ingin menyanyikan I want to Brek free, Biarkan ku Sendiri dan lagu-lagu jantan lainnya. Tapi yang mengalun dihatiku justru Yang kutahu cinta itu Indah nya Afgan Ft Nagita slavina,kemudian diselingi Baiknya Ada Band yang tambah mengiris hatiku. Ditambah lagi dengan Show me the Meaning of Being Lonely nya BSB mendayu-dayu di hatiku. Kenapa sih orang banyak menciptakan lagu-lagu Mellow? Melancholic..! Gawat..It seems Im Broken Heart. No…

Show me the meaning of being lonely

So Many words for the broken heart

It’s hard to see in a crimson love

So hard to breathe

Walk with me, and maybe

Nights of light so soon become

Wild and free I can feel the sun

Your every wish will be done

They tell me…

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

Tell me why, I can’t be there where you are

There’s something missing in my heart

Life goes on as it never ends

Eyes of stone observe the trends

They never say forever gaze if only…

Guilty roads to an endless love

(Endless love)

There’s no control

Are you with me now

Your every wish will be done

They tell me…

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

(Tell me why)

Tell me why, I can’t be there where you are

There’s something missing in my heart

There’s nowhere to run

I have no place to go

Surrender my heart, body, and soul

How can it be you’re asking me to feel the things you never show

You are missing in my heart

Tell me why I can’t be there where you are

Show me the meaning of being lonely

Is this the feeling I need to walk with

(Tell me why)

Tell me why, I can’t be there where you are

There’s something missing in my heart

Show me the meaning of being lonely

(Being lonely)

Is this the feeling I need to walk with

Tell me why, I can’t be there where you are

There’s something missing in my heart

Kucoba untuk langsung memejamkan mata untuk menghapus bayang-bayang Kuta yang selalu menguasaiku (not really that actually. Im crushed on). Aku tidak ingin mnyiksa diri dengan bayangan sepanjang jalan. Untunglah aku lelah sekali sehingga sepanjang jalan aku tertidur dengan mudah. Tapi keesokan harinya ketika bus berhenti di Sebuah Restoran di Situbondo aku terbangun dari mimpi tentang Kuta. Aku bermimpi tentang pantai, Chris, Gandi, Dewi , Indri dan kafe-kafe serta dentuman techno di tepi laut.

Sesampainya di Malang, aku tidak berani berlama-lama di ruangan atau kamar. Rasanya dadaku sesak sekali. Apalagi berada dalam kamar sambil mendengarkan music-music mellow. Sampai hari ini hatiku masih tertinggal di Kuta Bali, pikiranku masih berkelana menyusuri semua tapak yang pernah kutinggalkan.

Hanya butuh 5 menit untuk

Hanya butuh 10 meit untuk jatu h cinta

Butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan (bahkan lifetime)

Singaraja; 1 Meter ke Pantai, 1 Meter ke Gunung


Hiruk pikuk kota, deburan ombak pantai, kesejukan pegunungan dengan deru air terjun brpadu menjadi satu. Semua bisa anda dapatkan di Kaabupaten Buleleng. Memasuki buleleng kita akan tahu bahwa ternyata bali bukan hanya sanur, kuta, legian, dan seminyak.
Buleleng adalah sebuah daerah tingkat dua di bagian utara Bali. Dengan kontur pantai dan pegunungan yang dipenuhi oleh aneka wahana wisata air terjun dan persawahan yang tersusun mengikuti kontur perbukitan menjadikannya sangat eksotis. Setiap jengkal tanahnya adalah asset wisata yang menjanjikan lembaran rupiah. Ketika zaman colonial dahulu, buleleng adalah ibukota sunda kecil dengan pelabuhan bongkar muat yang sekarang dikenal dengan kawasan dermaga. Bali pun mulanya beribu kota singaraja (ibukota kabupaten buleleng) sebelum dipindah ke Denpasar sekarang. Kerajaan buleleng pada masa lalu terkenal dengan pahlawan-pahlawan perang yang mengobarkan perlawanan rakyat terhadap penjajahan colonial belanda. Sisa-sisa bangunan loji Belanda masih berdiri kokoh di sepanjang pantai di kawasan dermaga Singaraja.

Bergerak sedikit kea rah utara, mendekati pegunungan, suguhan perkebunan cengkeh, rambutan dan durian yang diselang-selingi persawahan yang sedang disapu warna emas sungguh menyejukkan mata. Mendaki sedikit ke daerah pegunungan, kita akan sampai di pedesaan yang bernama gitgit. Vila-vila peristirahatan bertebaran di daerah ini. Disepanjang jalan menuju kawasan gitgit banyak berjejer kedai-kedai traidsional yang meyediakan makanan dan minuman bagi wisatawa sambil menikmati alam pegunungan yang damai dan sejuk. Para penjual ini terkenal dengan ‘’dakocan” (dagang kopi cantik)karena konon penjualnya cantik-cantik dan menjual kopi plus-plus.

Untuk sampai ke air terjun gitgit kita harus menuruni jalanan setapak yang dipagari oleh art shop-artshop yang menjual brbagai macam barang seni khas bali. Mulai dari kain, patung-patung kecil, aksesoris dan wewangian aroma therapy khas nusantara. Hmm…aroma magis bercampur aroma khas persawahan di desa.

Hawa dingin menyambut ketika mendekati air terjun yg dikelilingi tebing-tebing tinggi dengan bermacam flora yang tumbuh rapat. Perkebunan cengkeh dan buah-buahan yang menghampar d lereng bukit menjadikan hutan disini sumber uang buat penduduk. Nggak lengkap kalo nggak mandi di “tube raksasa” dengan “shower dahsyat” ini. Byur…grrhh…dingin-dingin empuk. Kesegaran kembali merajai diriku member energy jiwa dan raga. Semua lelah dan letih tersapu hilang. Energy dari alam. Kalau saja semua orang menyadari pentingnya alam, pasti semua hutan lestari seperti ini.

Kata Bro Arief sih ini belum seberapa. Masih ada tiga air terjun lagi yang bisa dicapai dengan melanjutkan perjalanan sekitar lima belas menit lagi. Kapan-kapan kita kunjungi lagi. Hmm..Bali memang serpihan syurga yang tertinggal di bumi. Bukti kebesaran Ilahi (bagi yang menyadarinya).

Bagi yang senang dengan suasana malam yang tenang, tinggal melangkah ke sekitar kawasan Dermaga dan mencoba minuman di kafe-kafe di atas dermaga yang menjorok ke tengah laut (namanya juga dermaga). Dulunya dermaga ini tidak terurus, tapi sekarang pemerintah daerah menyulapnya menjadi kafe yang menyenangkan. Tidak seperti pantai-pantai lain di Bali, tempat ini sangat tenang (nggak seperti Lovina, Kuta, Legian, Sanur dan Seminyak yang crowded with all etnic in the world). Merenung dengan soundtrack debur ombak dan semilir angin malam. Music yang sempurna, punyanya Mozart nggak ada apa-apanya.

Kita bisa sampai ke air terjun dengan membayar ojek sekitar 30 ribuan ato kalo pengen lebih free, bisa menyewa sepeda motor yang banyak disewakan seperti di tempat wisata lain di Bali. Dan jangan lupa kalo mau ngenet, di Blue Sky Net at jl. Pattimura 64, Singaraja.

Traveller Guide For Backpackers; Tour West Java, Bali, Lombok, Bima

Setelah tertunda dua kali, Akhirnya jadi juga aku Going Home. I’m in Bali now. terdampar di syurga hot spot:) (dapet gratisan voucher dari Bro Arief. soalnya dia ngelola warnet di sana). Anyone in Singaraja, u can visit “BLUE SKY NET” ,  at Jln Pattimura 64, Singaraja. tinggal Clik n’ go.. deh. seperti rencana awal, aq mau estafet dari Malang-Banyuwangi-Bali-Lombok-Bima. pingin merasakan bagaimana rasanya jadi Backpacker. kemarin sih aku sudah ngumpulin semua informasi seputar rute perjalanan yang akan aku lewati. mulai dari tarif bus, jarak tempuh plus download peta-petanya. belum cukup itu saja, aku juga sempat ke Gramed beli “Travel Map of Bali”. walaupun pernah backpacking beberapa kali, yang ini adalah yang paling menantang menurut aku. masalahnya aku harus estafet berkali-kali. hmm..ternyata sulit juga dapetin informasi yang komplit tentang semua rute yang akan akau lewati. ketika googling, aku malah sampai ke forumnya indobackpacker yang juga lagi nyari informasi rute backpacking ke Bali. akhirnya setelah begadang sampe jam dua di Magnet, aku dapet juga sekilas info tetang rute yang akan aku lewati. apalagi setelah chat sama Bro Arief di Singaraja (thanks a lot Bro) yang ujung-ujungnya ngajakin mampir di tempat di dia di Singaraja. pucuk dicinta ulam tiba. itu baru namanya backpacking. sekaligus maen dulu di Bali.

Rasanya belum siap juga untuk pulang. apalagi untuk kepulangan yang kekal ya? pulang untuk menghadapi semua yang telah kita lakukan di dunia. terkadang kita sibuk mempersiapkan berbagai macam keperluan dunia tetapi melupakan persiapan yang lebih penting, persiapan akhirat.

Ok deh, ada waktu dua jam setelah berbuka buat siap-siap. packing, packing, cek sana, cek sini. beres deh. calling Bro Iqbal, minta dianterin ke Arjosari. tapi dasar akunya belum benar-benar siap. mampir dulu di Butiknya Akh Yanuar, kado cinta buat my Lovely Sista n’ Baba Theo (secara mereka baru nikah gitu loh.. n aku belum sempat ngasi hadiah).

The travelling started!!! walopun ngantuk berat kupanggul Si Saphire di pundak trus travel bag di tentengan. Mudik euy…! setelah nunggu lama, busnya berangkat jam 11 malam. tapi aku nggak langsung ke Ketapang karena bus yang tersisa cuma sampai Probolinggo.  So, disana harus ganti bus lagi. As I said, It’s really backpacking. Tak lama setelah bus bergerak meninggalkan terminal Arjosari, aku tertidur. tadi siang nggak sempat istirahat, muter-muter sama akh Cemet. Malang-Probolingo ternyata jauh juga. It’s take time about 2,5 hours.

1.30 am, I arrived in Probolinggo. Khas banget,  I hear Madurese spoken everywhere. Cepat-cepat aku cari bus jurusan ketapang. Yup, itu dia paling ujung. Hap, aku melompat naik. Asap dimana-mana di dalam bus. bukan karena kebakaran. Biasalah, bus ekonomi di Indonesia. And everyone spoke Madurese. untunglah malam hari, jadi dengan mudah aku bisa melanjutkan tidurku yang tertuda. estafet tidur lah.

06.30 am, kucek-kucek mata. mimpiku masih tertinggal di Malang. ternyata sudah sampe di Taman baluran, hutan jati yang sednag meranggas. disini tempat satwa endemik Jawa timur dilindungi. di tengah hutan jati, bus tua dengan ruangan penuh asap rokok itu mogok. wadduh, was up? ternyata bannya pecah kawan. It will take time he’eh?

Sambil menunggu ban diganti, aku mencoba membuka obrolan dengan penumpang di belakangku. Biasa naluri orang Public Relation. Seorang laki-laki dengan tampang keras yang mau menyeberang ke Pulau lewat Ketapang.

“Pulau? dimana itu? tanyaku pada sang bapak.

“Sapeken?” cecarku

“Koq tahu?”

Oh itu, saudaraku ada yang dari sepekan. Dialah al akh Usman adhim alias Bkan, sang Penyair dan debater yang mahir berbahasa Arab. Ternyata bapak ini adalah penyedia bibit buat petani rumput laut di Sapeken dan daerah-daerah budidaya rumput laut di Indonesia. Beliau baru samapai dari Maumere, berburu bibit disana. Kembali lewat Tanjung Perak dan menyeberang ke pulau lewat Ketapang. Perjalanan yang panjang demi bibit yang baik.

Menurut beliau devisa kedua Indonesia setelah minyak adalah rumput laut. dari penjelasan beliau, rumputlaut adalah komoditas yang sangat menggiurkan. Importir memasang harga U$ 4 per kilo gram. sedangkan di petani tiap kilonya dihargai Rp. 20. 000. Tinggal pilih tuh, mau jadi exportir, pengepul atau petani. pantesan saja mahasiswa-mahasiswa asal Sapeken “beruang” ya. mereka punya pohon duit di laut yang mengelilingi pulau mereka. bisa dipetik tiap 44 hari pula!

Jadi tertarik untuk dikembangkan di Bima. Bayangkan kalau teluk Bima penuh dengan lahan rumput laut dan pemiliknya aku. Wuih…keren. Bisa buat bahan diskusi sama Bang Theo di Bima nanti. Dia kan master kelautan dari UNDIP.

Seperti yang aku harapkan perjalanan backpacking ini banyak memberiku nilai lebih dibandingkan dengan aku memakai bus yang langsung ke Mataram atau Bima. Dapat link bussines baru, ide segar, plus pengetahuan baru. Setelah tukar kontak, kami berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing. aku bergegas menuju ferry yang akan membawaku menyeberangi selat bali dan dia naik ke kapal yang akan membawanya bersama bibit “pohon duit”nya ke Pulau.

Setelah membayar karcis seharga 6 ribu perak, aku bergegas menyuri jembatan penyeberangan dan masuk ke fery Nusa Dua yang sedang bersandar di dermaga. Penumpang tidak terlalu penuh (biasanya full dan antrian panjang terjadi pada jam 02.00 am-05.00 am dan sore hingga malam), mayoritas mereka adalah mahasiswa Lombok, Sumbawa dan bima yang sedang mudik. Kira-kira satu jam adalah watu yang dibutuhkan untuk menempuh selat kecil yang terkenal deras itu.

Menyusuri pesisir utara pulau dewata melewati perkampungan penduduk dengan bentuk rumah yang khas Bali, diselang-selingi oleh pemandangan pantai, persawahan dan kebun anggur membuat perjalanan dngan bus kecil (seperti angkot di Malang) full taste of Bali.

10.00 am, the bus stop in the little bus station (ternyata itu terminal bus Singaraja). celingak-celinguk nunggu Bro Arief ngejemput. nah, itu dia!! Dengan Yamaha Mio (spesies motor yg banyak di Bali) sampai juga aku disini: The Blue Sky Net,  warnet dan sekaligus tempat tinggal Bro Arief di Singaraja. dan sekarang aku posting pakai voucher gratis dari si empunya rumah. Thanks a lot Bro Arief..

Trus, ntar malam atau besok bergerak ke Lombok…

Ini dia rute yang aku tempuh:

Malang-probolinggo (2 jam, Rp. 16. 000 bus AC), Probolinggo-Ketapang banyuwangi (4,5 jam, 28. 000), Ketapang-gilimanuk (1 jam, Rp. 6000), Gilimanuk-Singaraja (2,5 jam, Rp. 20.000) ato kalo mau langsung dari Gilimanukke Dempasar (2 jam, about Rp. 15.000).

Jenis Bahan Tambang di Malang

MALANG – Wilayah Kabupaten Malang yang mencapai 4.778,37 kilometer persegi menyimpan potensi tambang yang begitu besar. Namun sayang besarnya potensi tambang itu belum digali secara maksimal.Data di Dinas Lingkungan Hidup, Energi, dan Sumberdaya Mineral (LH-ESDM) Pemkab Malang menyebutkan, di wilayah kabupaten banyak tambang golongan C. Tambang golongan ini di antaranya, pasir dan batu (sirtu), piropilit, batu gamping, bentonit, kaolin, toseki, andesit, kalsit, pasir kursa, tras, dan zeolit.
Barang-barang tambang tersebut tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Dari bahan galian tersebut baru sebagian yang sudah ditambang sesuai izin yang masuk ke dinas LH-ESDM.
Dinas ini juga memprediksi, selain tambang golongan C, masih ada jenis tambang lainnya. Sayangnya dinas ini masih kesulitan anggaran melakukan identifikasi bahan galian yang terkandung di tanah kabupaten.
Pemkab hanya melakukan penggolongan bahan tambang setelah PP 27/1980 mengenai penggolongan tambang keluar. Hingga kini pemkab pun terus melakukan pendataan jenis tambang yang ada di wilayahnya. Pendataan itu misalnya soal pendataan bahan galian golongan A (strategis), B (vital), dan C (tambang yang tidak termasuk A dan B).
Dari penggolongan jenis bahan galian tersebut di kabupaten banyak dijumpai bahan galian dengan golongan C. “Bahan galian golongan C itu mudah diidentifikasi karena berada di antara gunung dan bukit,” terang Subandiyah, kepala Dinas LH-ESDM Kabupaten Malang kemarin.
Soal penggalian data tambang selain golongan C, Subandiyah mengaku masih ada potensi. Namun dinasnya belum bisa mengungkap karena terbentur anggaran penelitian.
Hingga kini, tambang yang sudah digali berada di kawasan pegunungan dan perbukitan. Di antaranya di kawasan Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Singosari, Wajak, Karangploso, Donomulyo, dan Kalipare. Selain sirtu di wilayah tersebut juga teridentifikasi berbagai bahan galian yang potensial menambah PAD (pendapatan asli daerah) kabupaten. Di antaranya, emas, bentonit, kaolin, dan lain-lain.
Namun hingga sekarang potensi tambang itu belum digali. Belum ada investor yang masuk untuk menambang bahan galian yang sudah teridentifikasi tersebut. “Kami memang masih belum bisa mengetahui jumlah kandungannya,” aku Subandiah.
Hingga September 2007 ini, dinas LH-ESDM mencatat ada 200 lokasi tambang yang memiliki izin. Sedangkan 49 lokasi lainnya mendapat pembinaan karena tidak memperhatikan dampak lingkungan. Bahkan di antaranya mendapat surat peringatan dan dihentikan aktivitasnya.
“Kalau masih mau menambang dengan benar, mereka tetap kami bina. Kalau tidak, kami menutup langsung tambang tersebut sesuai dengan peraturan pemerintah,” urai Sumbadiyah.

Pada 2007 ini saja, dinas ini telah menghentikan aktivitas penambangan di beberapa lokasi. Di antaranya, Kecamatan Karangploso ada tiga lokasi, Jabung (1 lokasi), dan Singosari (2 lokasi). Selain tidak berizin, mereka juga tidak memperhatikan dampak lingkungan dan cara menambang yang baik.

Seperti halnya di dua titik penambangan di Desa Toyomerto, Singosari. Para penambang tidak mengunakan sistem terasiring dan pengupasan. Di samping itu, pemilik tambang juga tidak memperhatikan keselamatan jiwa para pekerjanya. “Walau sudah ada izin tetapi tidak memperhitungkan keselamatan pekerja dan lingkungan, maka kami tutup pertambanganya,” aku Subandiah.

Dampak dari aksi penambangan liar tersebut di antaranya, longsor dan banjir. Seperti halnya aksi penambangan sirtu di Toyomerto. Mereka tidak mempertimbang

Geografis Malang

LETAK GEOGRAFIS

Terletak pada ketinggian antara 440 – 667 meter diatas permukaan air laut. 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06° – 8,02° Lintang Selatan, dengan dikelilingi gunung-gunung :
Gunung Arjuno di sebelah Utara
Gunung Semeru di sebelah Timur
Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
Gunung Kelud di sebelah Selatan
IKLIM
Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2006 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 22,2°C – 24,5°C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,3°C dan suhu minimum 17,8°C . Rata kelembaban udara berkisar 74% – 82%. dengan kelembaban maksimum 97% dan minimum mencapai 37%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Januari, Pebruari, Maret, April, dan Desember. Sedangkan pada bulan Juni, Agustus, dan Nopember curah hujan relatif rendah.
KEADAAN GEOLOGI
Keadaan tanah di wilayah Kota Malang antara lain :
Bagian selatan termasuk dataran tinggi yang cukup luas,cocok untuk industri .
Bagian utara termasuk dataran tinggi yang subur, cocok untuk pertanian
Bagian timur merupakan dataran tinggi dengan keadaan kurang kurang subur
Bagian barat merupakan dataran tinggi yangf amat luas menjadi daerah pendidikan
JENIS TANAH

Jenis tanah di wilayah Kota Malang ada 4 macam, antara lain :
Alluvial kelabu kehitaman dengan luas 6,930,267 Ha.
Mediteran coklat dengan luas 1.225.160 Ha.
Asosiasi latosol coklat kemerahan grey coklat dengan luas 1.942.160 Ha.
Asosiasi andosol coklat dan grey humus dengan luas 1.765,160 Ha
Struktur tanah pada umumnya relatif baik, akan tetapi yang perlu mendapatkan perhatian adalah penggunaan jenis tanah andosol yang memiliki sifat peka erosi. Jenis tanah andosol ini terdapat di Kecamatan lowokwaru dengan relatif kemiringan sekitar 15 %.

« Older entries